Sihirmu Bukanlah Hujan dan Puisi Lainnya

  • By Heri Isnaini
  • 11 Mei 2025
Pexels-Pixabay

SIHIRMU BUKANLAH HUJAN
    : Sapardi Djoko Damono

Sihirmu bukanlah hujan itu, aku mengenalnya dengan baik
berderet-deret dengan larik dan bait
yang di sela-sela hurufnya akan kau siasati
aku selalu menunggu isyarat yang kau katakan tiada itu
tajam hujanmu membingkai komposisi 1, 2, dan 3

Sihirmu bukanlah hujan itu, aku menunggunya di beranda
selepas matahari terbenam di barat, aku tidak akan mengikutinya
biar kau sajalah yang berceloteh tentang pepohonan basah dan ketukan-ketukannya
aku selalu mendengar  risik daun yang jatuh itu
deras hujanmu membasahi doa-doaku

DukaMu Abadi, 11 Maret 2025


PERAHU NUH

kau berlayar bersama Nuh
perahunya terombak berayun
di buritan kau melihatnya juga
mengintip dari empat mata angin

tidak ada bintang
hanya desir angin dan debur air
kau bahkan masih mengingatnya

seorang anak mendaki gunung
berharap dapat melihatmu
mengalun mengikuti irama ombak

Maret 2025


SUASANA PAGI

ketika pagi berhampar  embun
dedaun yang basah tersiram cahaya matahari
menggambar pendar pelangi
berwarna:

ada sebongkah batu yang selalu menyapa
kau membawanya kembali
ke kali yang jernih airnya

kakimu basah tanpa alas
membawa dengan tergesa
sepucuk kenangan yang dikirimkan angin
begitupun cahaya matahari
mereka setia menunggu:

pagi yang berulang!

Maret 2025


SAJAK SORE INI

gerimis yang setadi turun membawa harum tanah yang rindu air
matahari tetap cemerlang
awan bergegas menolak angin

aku sendiri menatap gerimis yang penuh rahmat
ini sudah bulan Juli yang lantas mendambakan cinta dari hujan
tetapi surut pula

di dalam ikhtiar dan mimpi-mimpi
aku meratap selaksa sajak para pujangga
membibitkan tetes luka yang asin

sore ini

Maret 2025


SONETA TENTANGMU

ini jam, hari, dan bulan yang sama
seperti tahun yang sudah berlalu
aku mengenalmu bersama untaian doa
terbang mengitari jarak ribuan kilo

apakah kau tahu rasa rindu ini?
aku menunggu di beranda
bersama gerimis dan nyanyian jangkrik
menemani detik, jam, dan hari yang sama

aku mendengarmu, kekasih
aku pun menunggu di beranda
seperti tahun yang sudah berlalu

masih ada gerimis
nyanyian jangkrik
dan tentu saja rasa rindumu
 
Maret 2025

 


TAGS :

Heri Isnaini

Lahir di Subang, Jawa Barat, pada tanggal 17 Juni. Heri sangat menyukai puisi-puisi Sapardi Djoko Damono. Pernah mengikuti acara “Temu Penyair Asia Tenggara 2018” di Padang Panjang, Sumatera Barat, mengikuti Festival Seni Multatuli 6-9 September 2018 di Rangkasbitung, Lebak, Banten. Puisi-puisinya juga pernah dimuat pada Jurnal Aksara, Deakin University, Australia.             

Antologi puisinya, Ritus Hujan (2016); Singlar Rajah Asihan: Kumpulan Sajak (2018); Ah, Mungkin Kau Lupa Aku Begitu Merindumu (2019); Manunggaling Kawula Gusti: Kumpulan Sajak (2020); Montase: Sepilihan Sajak (2022). Cerpennya pernah dimuat pada koran Radar Banyuwangi, Radar Kediri, dan Harian Rakyat Sultra. Beberapa media daring di Indonesia seperti Radar Utara, Restorasi News Siber Indonesia, Tebu Ireng Online, Bali Politika, Berita Jabar News, Sip Publishing, Himpun.id, Negerikertas.com, Potret online, Tajdid.id, Madrasah Digital.co, Riau Sastra juga pernah memuat karya-karyanya.

Kegiatan sehari-hari Heri adalah Dosen Sastra IKIP Siliwangi Kota Cimahi. Selain itu, Heri juga banyak beraktivitas sebagai editor dan reviewer di berbagai jurnal ilmiah di dalam dan luar negeri. 

Komentar