LIMA PUISI SUNYI S. SIGIT PRASOJO
By S. Sigit Prasojo
- 28 Juni 2025
Fragmen dalam Laci
Di meja belajarku,
ada laci yang tak pernah kubuka.
Bukan karena lupa—
melainkan di sanalah
kusimpan diriku
yang patah di hari keempat:
ia tak sempat pulih,
tak sempat tumbuh,
hanya diam
dengan wajah bingung,
dada sesak oleh pertanyaan
yang tak diberi ruang untuk menjelma jawaban.
Matanya—
memohon agar dunia
menunda sebentar saja
segala mulanya.
Setiap kali tanganku mendekat,
seluruh kamar menahan napas,
seakan dinding-dindingnya
menunggu pengakuan
yang terlalu lama
kutangguhkan.
Entah sudah berapa versi diriku
kumasukkan ke dalam laci-laci lain:
di bawah kasur,
di balik rak buku,
di antara lipatan handuk—
semuanya serpihanku,
semuanya belum selesai dituliskan.
Dan hari ini,
ketika kuraba gagangnya,
aku tahu:
yang kutakutkan bukanlah
apa yang diam di dalamnya,
melainkan diriku sendiri
yang tak lagi sanggup
mengakui bahwa
akulah yang pernah tinggal di sana.
Ponorogo, Juni 2025
Anatomi Luka
Ada luka
yang menolak sembuh.
Bukan karena keras kepala,
melainkan karena ia tahu:
bila ia menghilang,
aku akan kehilangan
satu-satunya alasan
untuk tetap merasa manusia.
Luka ini tumbuh jari,
menumbuhkan mata,
dan setiap malam
ia minta diberi makan:
dengan memori,
dengan puisi,
dengan napas yang koyak.
Ia duduk di sudut tubuh
seperti anak haram
yang tak diakui oleh iman
dan ditertawakan oleh logika.
Aku tak tahu
bagaimana membunuhnya
tanpa ikut mati.
Maka kubiarkan ia hidup,
menjadi bagian dari aku
yang tak bisa dijelaskan
oleh biografi
atau foto keluarga
Ponorogo, Juni 2025
Orang Terakhir yang Kucintai
Dulu,
aku mencintai banyak hal:
perempuan yang menulis puisi,
buku-buku tua di pojok rak,
langit sore
yang tampak seperti janji
yang sempat Tuhan bisikkan.
Kini,
aku hanya mencintai satu hal:
diriku sendiri—
dan itu pun
tidak setiap hari.
Aku bangun
dengan dada yang terasa asing,
berjalan seperti seorang tahanan
yang tak diberi tahu
apakah ia sedang dibebaskan
atau dibuang
lebih jauh dari dunia.
Di depan cermin,
aku memanggil namaku
dengan suara
yang tak lagi kukenal.
Dan malam—
malam adalah saat paling jujur:
saat kupeluk tubuhku sendiri
seperti benda bukti
yang tak pernah bisa menjelaskan
kenapa aku ada
di persidangan hidupku sendiri.
Ponorogo, Juni 2025
Kalimat Pemantik
Aku pernah membakar diriku sendiri
tanpa api.
Kupakai kata-kata—
kutumpuk pelan-pelan
hingga menjelma bara
yang tak terlihat mata.
Tak ada yang tahu.
Orang-orang hanya melihat aku tertawa,
membacakan puisi,
menyentuh bahu orang lain
dengan sopan.
Tapi malam hari,
aku mengumpulkan seluruh versiku
yang kupakai hari ini:
aku yang ramah,
aku yang baik,
aku yang sabar,
aku yang selalu tahu jalan keluar.
Semua kutumpuk
di halaman belakang kepalaku,
lalu kusulut
dengan satu kalimat lirih:
“Aku tidak sekuat yang kalian kira.”
Dan dari gelap itu,
yang tersisa hanyalah abu—
dan tubuh
yang tetap harus menjalani hari
seolah tak pernah terbakar.
Ponorogo, Juni 2025
Silsilah Sunyi
Yang paling sering mati
bukan yang paling lantang bersuara—
melainkan yang diam,
yang mematung di sudut kelas,
yang mengangguk di setiap diskusi,
yang pulang sendirian
dan menulis di catatan kaki hidupnya:
“aku baik-baik saja.”
Yang diam
tak pernah minta ditolong.
Ia sudah terlalu sering melihat
tangan-tangan datang
bukan untuk menarik,
tapi untuk menghakimi
cara ia jatuh.
Yang diam
bukan karena tak punya kata,
tapi karena suara terakhirnya
telah dikuburkan dalam dada ayah
yang tak sempat mengajarinya
cara melawan hidup
tanpa kekerasan.
Yang diam itu aku.
Dan aku sedang mencoba bicara
melalui puisi ini.
Jika kau tak dengar—
tak apa.
Aku sudah terbiasa.
Ponorogo, Juni 2025


Komentar