PUITIKA BULELENG DAN ARSIP PUITIK

  • By Wayan Artika
  • 05 Januari 2026
Cover Sepotong Surga Catatan Neraka

“Meskipun puisi-puisi dalam kumpulan ini berdiri sendiri, semuanya memiliki biang emosi dan imajinasi yang satu, yakni: ingatan sebagai ruang spiritual, luka sosial dan ironi hidup, Tubuh sebagai lanskap, Bali sebagai ruang memori—bukan destinasi wisata, relasi manusia–alam”

Siapakah yang membaca puisi? Seorang pengarang menulis ratuasan atau ribuan puisi. Banyak pula yang hilang dan tidak terhitung. Puisi mengalami takdir tidak dibaca. Puisi dibaca karena hal di luar dirinya. Penyairnya yang miskin dan pemberani. Penyairnya buronan. Puisi bersentuhan dengan yang berkuasa. Walau begitu, puisi tetap ditulis oleh seseorang. Syukur jika bisa dibukukan. Sebagai karya ia sangat diapresiasi tetapi tidak pernah dibaca. Puisi lahir untuk lepas tertapi jarang dibaca. Hanya sedikit puisi yang terkenal. Puisi hadir karena eksostensi penyairnya. Bukan eksistensi pembaca!

Karena itu, memang teks, tidak semua teks perlu dibaca. Yang mana dibaca sangat bergantung kepada kemauan pembaca. Mereka berkuasa atas teks yang lahir. Ada gerakan  ketika teks dibaca. Diperbincangkan dan ini menjadi bonus bagi satu teks untuk dibaca terus-menerus. Rasanya keajaiban ketika teks dibaca atau satu puisi dari ratusan yang terbaca. Dalam dunia sastra ada karya tak terbaca dan terkubur hidup-hidup. Ini datang dari pengarang atau penyair yang tidak tercatat. Mereka penyair bagi dirinya sendiri. Pengakuan mungkin titik soalnya. Tapi ini kadatang hanya nasib baik. Maka menulis apapaun itu termasuk puisi, adalah bukan untuk mendapat sambutan pembaca tetapi cukup sebagai karya yang mati.

Lalu,

Lantas,

Kemudian,

Pada akhirnya:

Puisi-puisi Made Edy Arudi dalam kumpulan terbaru ini memperlihatkan kematangan seorang penyair  (berprofesi guru bahasa Indonesia) yang telah lama menekuni puisi dengan bersinggungan pada tradisi lokal, dan lanskap Buleleng yang membentuk dirinya. Sebagai seorang guru bahasa Indonesia asal Kota Singaraja yang telah berulang kali menjuarai lomba penulisan puisi tingkat nasional, Made Edy Arudi menjadikan Buleleng  sebagai latar, ruang batin, ruang sejarah lokal dan ingatan pribadi yang tajam, sekaligus ruang spiritual yang menjadi salah satu kunci hakiki puisi.

Dari Gunung Lesung, Danau Tamblingan, Les, Banjar, hingga pesisir Penimbangan—setiap ruang dalam puisi ini ditangkap bukan sebagai objek pandang, melainkan subjek yang dihidupkan, yang berbicara, memberi tanda, merawat ingatan, dan menegur kesadaran manusia. Objek geografi yang banyak ditulis dan menjadi ciri khas puisi-puisinya setidaknya tampak juga pada kumpulan puisi sebelumnya, adalah puisi untuk menghidupkan dan memberi roh. Mungkin bukan sebatas definisi gaya bahasa personifikasi klasik atau konvensional. Penyair menghadirkan geografi dengan pendekatan yang meditasi atau yoga dan terasa transenden. Hutan, bukit, pura, palungan garam, sungai, dan air panas bukan benda statis, tetapi tokoh-tokoh simbolik yang masuk ke tubuh puisinya dengan denyut emosional yang kuat dan keintiman mendalam yang juga transformatif.

Tema-tema spiritual yang berkonsekuensi religius dan tradisi lokal Buleleng menjadi nadi dalam karya-karya ini. Dalam sajak ”Pendakian Gunung Lesung”, misalnya, perjalanan mendaki berubah menjadi ziarah batin, doa, dan perjumpaan dengan “pecalang alas” serta Dewa-Dewa penjaga gunung. Sementara dalam ”Tamba Eling” dan ”Lelaki Bertubuh Air”, unsur kesucian air, pemujaan terhadap sumber-sumber taksu, serta ritus penyucian diri menjadi episentrum yang menyeimbangkan antara realitas hidip dan spiritualisme.

Kedekatan penyair dengan tradisi, mitologi, dan ritus masyarakat Bali Utara tampak kuat. Ia tidak hanya menuliskan tradisi, tetapi menjalankan tradisi sebagai pengalaman puitik—misalnya dalam ”Nyakan Diwang”, ”Manak Salah”, ”Di Kelenteng Ling Gwan Kiong”, atau ”Sembiran” yang memperjumpakan mitos tua yang bersemayam di relung-relung masa lalu, sejarah desa, dan (sejatinya) getir kehidupan modern. Melalui bahasa puisi yang berbeda dengan bahasa sehari-hari (tidak umum atau tidak biasa) dengan tanda-tanda lokal, ia menghidupkan kembali memori budaya yang terkikis dan kerap terlupa oleh masyarakatnya sendiri.

Sedimen sosial juga hadir kuat. Dalam ”Ikan-ikan Itu Belum Merdeka”, penyair menyentil ketimpangan dan ironi kehidupan pesisir. Di ”Peladang Garam Les”, tubuh petani garam adalah metafora keteguhan, kerja keras (”perlawanan”), sekaligus ketidakadilan yang tetap dipikul generasi demi generasi.

Ciri khas Made Edy Arudi tampak pada sensualisme citraan alam yang, metafora yang pekat, dan diksi yang sering berbenturan antara lembut dan keras, antara spiritualitas dan realitas getir. Ia mampu menautkan “berahi bromocorah” dengan sakralnya “Dewi Danu”, atau kesunyian peladang garam dengan harumnya daun lontar yang diwariskan tradisi—kontras yang memperkaya lanskap perasaan dan imaji pembaca.

Secara tematik, kumpulan puisi ini bisa dibaca sebagai perjalanan geografis melintasi Buleleng—gunung, bukit, dan lautnya; perjalanan spiritual mencari keheningan, kesucian, dan ruwatan batin; perjalanan sejarah dan tradisi yang menyingkap mitos, ritual, dan kepercayaan para leluhur; perjalanan sosial yang menyuarakan kehidupan rakyat kecil di pesisir, ladang, dan desa-desa tua; dan perjalanan diri—pengembaraan seorang manusia yang terus pulang kepada tanah kelahiran, alam leluhur, dan cinta yang tak selesai dibaca.

Semua perjalanan itu menyatu dalam bahasa yang nyala dan gerakannya melipat antara narasi, liris, dan meditatif.

Kumpulan puisi ini memperlihatkan ruang batin seorang penyair yang menjadikan lanskap Bali Utara—alam, sejarah, spiritualitas, dan pengalaman pada kehidupan sosial—sebagai episentrum metafisisme dan emosionalitas dari penciptaan puisinya. Ada perpaduan yang sangat kuat antara lirisisme, kesadaran sejarah, sensualitas, spiritualitas, dan kegetiran sosial, membentuk gaya khas Edy Arudi yang semakin matang dan berani.

Puisi-puisi ini dapat dibaca sebagai peta sastra Buleleng, tetapi juga sebagai peta batin penyairnya sendiri karena sastra adalah sebuah kesunyian atau kesendirian. Pada setiap tempat (geografi), tokoh, dan mitos atau cerita, penyair memantulkan pergulatan diri yang dalam.

Puisi ”Berahi Biru Dalem Saganing” memadukan sejarah, erotisme, dan psikologi kekuasaan. Made Edy Arudi menghadirkan Dalem Saganing bukan hanya sebagai tokoh sejarah, tetapi sebagai manusia yang rapuh: seorang raja di usia senja yang dikejar waktu, rindu, dan penyesalan. Keindahan puisi ini terlihat pada diksi “hasrat biru” menjadi simbol energi hidup terakhir—bukan sekadar nafsu, tapi keinginan yang tak selesai. “Luh Pasek” tidak digambarkan sebagai objek yang dibunuh; ia memiliki suara, nestapa, dan pertanyaan. Puisi ini juga memiliki ironi yang kuat: kehidupan ranjang seorang raja dipertautkan dengan utang sejarah kepada Arya Jelantik—tanda bahwa tubuh raja sekalipun tidak lepas dari beban politik. Akhir puisi menghadirkan ketawa yang “merambat ke ujung malam”—menandai absurditas kekuasaan, cinta, dan waktu yang menelan segalanya. Dengan demikian adanya, Puisi ini bukan erotisme kosong;  adalah meditasi tentang kuasa, tubuh, usia, dan penyesalan sejarah.

”Brahmavihara Arama” merupakan dialog antara hening, realitas keras dunia modern, dan pengharapan manusia. Made Edy Arudi memasukkan elemen satir—patung Buddha yang seakan memberi “wahyu perang” kepada bocah—untuk menunjukkan bagaimana generasi baru terancam oleh kekerasan dan kerakusan zaman. Namun, di balik itu, terdapat harapan: pada tembok wihara menjadi pelindung hening; cakrawala dan bukit seakan bersekongkol menjaga kedamaian; Buddha mengelus kepala bocah—simbol kasih universal. Puisi ini adalah kritik sosial yang halus sekaligus doa yang lirih.

”Jagaraga” menjadi salah satu puisi paling kuat dalam kumpulan ini. Penyair menghidupkan kembali memori puputan Jagaraga melalui suara seorang ibu kepada anaknya (nada keibuan membuat tragedi sejarah terasa sangat intim dan dekat; buah rahimku” diulang sebagai mantra pelindung, seakan sejarah berdarah itu begitu pedih untuk diwariskan). Akhir puisi menghadirkan harapan: Besok kita buat kebun bunga tanpa air mata. Ini bukan pelarian, tetapi transformasi ingatan menjadi kehidupan. Puisi ini adalah elegi sejarah, tetapi juga janji kehidupan baru.

”Di Restoran Apung” menangkap suasana Singaraja sebagai kota pesisir: antara romantis, murung, dan penuh memori. Restoran apung menjadi “ruang rahasia” bagi rindu yang tak ingin dijelaskan. Penyair dengan cerdas menghadirkan lanskap kota: lewat diksi Ling Gwan Kiong, Yudha Mandala, ombak, ikan bakar, angin buritan. Ada sensualitas lembut yang tidak vulgar, tetapi intim: “saat kutiti gurat kening dan dagumu” Pada akhirnya, rindu dihadapkan pada kenyataan kota yang “pengap” dan penuh kehilangan. Puisi ini adalah romansa pesisir yang pahit-manis.

Puisi ” Di Pantai Celuk Agung” adalah keindahan senja, luka batin, kemiskinan nelayan, dan ironi turisme pesisir. Pemandangan lumba-lumba—ikon Lovina—dikontraskan dengan lelaki pemabuk, sampah, nelayan yang terkapar. Di sinilah Made Edy Arudi menunjukkan sisi sosialnya: pesisir bukan hanya wisata, tetapi ruang hidup yang letih.

Protes ekologis yang sangat kuat pada ” Di Pura Beji Sangsit” karena penyair berbicara kepada Dewi kesuburan, sosok sakral yang justru tampak murung; ada kontras antara ritual subak—yang penuh harmoni—dengan invasi modernitas: pesawat, beton, kemacetan, sawah yang dipotong seperti kue ulang tahun. Imaji paling menohok adalah: “tak bisa kuteguk air lagi tuk kujadikan air mata” Terasa sangat kuat ratapan ekologis sekaligus doa perlindungan tanah leluhur pada relung batin puisi ini.

Puisi ”Rumah Intaran” lebih meditasi, memotret sebuah tempat sebagai ruang penyembuhan dan permenungan. Kayu, anyaman, dapur, tipat cantok—detail keseharian yang sangat khas Bali Utara. Ada hubungan spiritual antara manusia, pohon, dan rumah tradisional. Penyair menyiratkan kritik halus terhadap plastik dan sampah, tetapi dalam nada lembut, tidak menghakimi, sebagai puisi nostalgia ekologis.

Perjalanan spiritual dan historis dapat dibaca pada puisi “Ponjok Batu”. Penyair mengejar “cahaya-MU”, simbol pencerahan atau restu ilahi. Pura Ponjok Batu dan kisah Danghyang Nirartha menjadi reproduksi poros naratif. Laut, gelombang, gua karang, dan perahu sekarat menjadi metafora perjalanan batin yang melelahkan namun sublim. Campuhan lima mata air menjadi penawar rindu dan duka. Dengan demikian, puisi ini adalah tirakat, laku tapa, dan ziarah batin.

”Kupinjam Sayap Kelelawar” adalah puisi paling gelap dan eksistensial dalam kumpulan ini. Gua Jepang Pegayaman menjadi simbol trauma sejarah, gelap batin, dan luka masa lalu. Penyair tidak bisa menatah kata-kata lagi—menandakan keputusasaan. Sayap kelelawar menjadi metafora transformasi: bukan untuk terbang, tetapi “kepakkan nganga luka”. Akhir puisi adalah rekonsiliasi diri, tafakur dengan luka. Puisi ini tentang perjalanan ke dalam tubuh sendiri, ke lorong-lorong tak tersentuh.

            Memalui ulasan terhadap beberapa puisi di atas, sampailah pada temuan. Made Edy Arudi mengusung puitika Buleleng yang kuat. Buleleng tidak hanya menjadi latar, tetapi roh puisi itu sendiri. Gunung, pantai, pura, rumah kayu, sejarah puputan, dan tokoh-tokoh lokal menjadi bahan baku yang diproses menjadi metafora batin. Ia menghadirkan  Perpaduan Spiritual – Erotis – Sosial – Historis

Inilah kekuatan khas penyair: ia dapat menggabungkan renungan Buddha, tubuh perempuan, sejarah kolonial, hingga isu pesawat dan beton modern dalam satu lanskap gaya yang tetap puitis. Hal itu semua disajikan dalam  bahasa liris, imaji espresso, dan nada meditatifisme. Dunia kata yang dibangun kembali adalah dunia kata yang sensual  dan filosofis.

Meskipun puisi-puisi dalam kumpulan ini berdiri sendiri, semuanya memiliki biang emosi dan imajinasi yang satu, yakni: ingatan sebagai ruang spiritual, luka sosial dan ironi hidup, Tubuh sebagai lanskap, Bali sebagai ruang memori—bukan destinasi wisata, relasi manusia–alam

 

Gaya dan  Estetika

            Kumpulan puisi ini berisi Rralisme magis etnografis, memadukan realitas desa, ritual, geografi Buleleng, dengan imaji simbolik magisme. Ini melahirkan gaya yang mirip magical ethnographic realism. Puisi-puisi ini bukan sekadar gambaran rasa, tetapi memuat alur, tokoh, dialog diam, dan gerak dramatik. Nama-nama tempat (Mudaria, Pedawa, Sidetapa, Depeha, Celuk Terima), flora-fauna Buleleng, upacara, artefak budaya—menjadi kekuatan khas. Ia menghadirkan sense of place yang kuat. Tubuh diperlakukan sebagai teks: tubuh perempuan, tubuh bocah, tubuh gunung, tubuh kota, tubuh klanceng. Ini melahirkan gaya metaforis yang sensual dan spiritual sekaligus.

Sebuah penegasan bahwa puisi-puisi ini mernjadi catatan perjalanan batin seorang penyair Bali kontemporer di tanahnya sendiri yang dia sangat hormati dan kenali yang menyerap geografi, ritual, ekologi, sejarah, dan politik. Perpaduan liris–naratif yang matang yang tidak mengikuti pola puisi instagram/modern pop, melainkan tradisi liris yang serius karena akar pengalaman kepenyairan yang panjang. Dokumentasi rasa dan lanskap budaya yang mungkin kelak menjadi arsip puitik Bali Utara.


TAGS :

Wayan Artika

Dr. I Wayan Artika, S.Pd., M.Hum adalah dosen Ilmu Sastra pada Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Pendidikan Ganesha. Penggerak literasi asal Desa Batungsel, Kecamatan Pupuan, Tabanan. 

Komentar