Pengembara Sunyi

  • By I Made Sugianto
  • 09 Maret 2026
Pustaka Ekspresi

Buku ini adalah jembatan. Ia menuntun siapa pun yang membacanya untuk menengok jauh ke belakang, ke lorong-lorong masa di mana nama-nama agung seperti Bhagawan Kasyapa, Bhagawan Mrecukunda, dan Bhagawan Handang Singa bukan sekadar tokoh legenda, tetapi mata air pengetahuan, cahaya penuntun, dan mercusuar harmoni.

Di balik setiap halaman, kita diajak merasakan napas panjang peradaban: bagaimana kisah para Bhagawan lahir bukan hanya di bait kitab Weda, Purana, atau lontar-lontar tua Nusantara, melainkan di hati manusia yang berusaha mendamaikan terang dan gelap, dewa dan raksasa, kelahiran dan kematian. Kita melihat Kasyapa sebagai leluhur semua makhluk, Mrecukunda sebagai penjaga jalur gaib nan sunyi, dan Handang Singa sebagai penuntun di batas antara dunia nyata dan bayang-bayang. Kita hidup di zaman di mana segala sesuatu terhubung begitu cepat, namun hati manusia semakin sering terpisah dari akar kebijaksanaan. Barangkali di situlah letak relevansi kisah-kisah ini: membisikkan ulang kepada kita bahwa setiap perbedaan lahir dari satu sumber, setiap konflik hanyalah arus yang pada akhirnya akan pulang pada lautan keheningan.

Buku ini menjadi upacara kecil yajña yang menyalakan kembali api pengingat: bahwa di sekeliling kita, segala unsur, makhluk, dan bayangan punya tempatnya masing-masing. Di atas altar pengetahuan para Bhagawan, kita diajak menapaki harmoni, belajar dari setiap percikan mitos, dan menyalakan pelita di dada sendiri.


TAGS :

I Made Sugianto

I Made Sugianto lahir di Banjar Lodalang, 19 April 1979 bertepatan Wraspati Wage Sungsang (Sugian Jawa). Kini istirahat sejenak dari pekerjaan sebagai wartawan NusaBali untuk mengbadi sebagai Kepala Desa di tanah kelahirannya, Desa Kukuh, Kecamatan Marga, Tabanan.

Komentar