Balian Sakti

  • By I Made Sugianto
  • 25 Desember 2022
pixabay

NAMA Wayan Jengki makin bersinar saja. Hampir setiap hari pasramannya yang berada di kaki gunung Batukaru dijejali masyarakat. Mereka datang berharap kesembuhan dari berbagai macam penyakit yang diderita. Wayan Jengki dipercaya memiliki kekuatan supranatural dan mampu menyembuhkan segala macam penyakit. Informasi di masyarakat, ia dikenal sebagai balian sakti. Konon kesaktian yang dimiliki merupakan kombinasi dari ilmu kebhatinan khas Bali dan Jawa. Maklum, Wayan Jengki pernah berguru lima tahun di Pulau Jawa.

Aku salah satu murid Wayan Jengki. Aku ingin mendalami usadha Bali. Cita-citaku jadi dokter, namun gagal karena keuangan tak cukup untuk nombok di universitas. Meski berotak cerdas, jika tak cukup rupiah, seratus persen cita-cita jadi kandas. Gagal jadi dokter, barangkali lolos jadi balian. Toh juga sama-sama menolong dan berupaya menyembuhkan masyarakat. Tak terasa, enam sasih tinggal dan belajar di Pasraman Kayu Manis. Pasraman yang asri, berlatar belakang gunung menjulang tinggi. Udara sangat bersih, asap knalpot kendaraan bermotor belum banyak.

Tak terasa, enam sasih mempelajari berbagai lontar usadha Bali. Guru Wayan Jengki mengangkatku jadi asisten. Aku dipercaya meramu obat yang terbuat dari berbagai jenis tanaman obat. Luas tanaman obat di pasraman hampir satu hektare. Tanamannya cukup beragam, mulai pegagan, mahkota dewa, hingga kumis kucing. Selama berguru, setiap hari kusaksikan antrean panjang para pasien. Saking ramenya, pihak pasraman memberlakukan karcis untuk menciptakan ketertiban. Pasien datang hampir dari seluruh Bali. Mereka yang dari jauh, biasanya mendaftar per telepon agar dapat nomor kecil. Mungkin karena sugesti, atau memang guruku sakti, selama berguru belum pernah kusaksikan pasien komplin. Rata-rata mereka mengaku dapat perubahan yang lebih baik. Tiga kali berobat sudah kembali sehat walafiat.

“Made, sudah enam sasih kau berguru padaku. Semua pengetahuan tentang usadha Bali telah kuturunkan kepadamu. Demikian pula ilmu kanuragan yang kupelajari di tanah Jawa, telah kuwariskan kepadamu. Kini, kamu sudah cakap untuk pengobatan. Ingatlah rajin meditasi dan sembahyang agar kau dapat taksu dari Hyang Widhi,” pesan guruku. Pesan itu disampaikan saat aku diminta mengantar guru ke Denpasar. Guru turun gunung karena ingin memenuhi kewajibannya bayar pajak. Bulan Oktober ini merupakan kesempatan terakhir bayar pajak. Guru ingin aku yang mengantarnya. Sekalian jalan-jalan agar tak bosan bergulat dengan lontar di pasraman.

Di dalam perjalanan, guru banyak beri petuah. Jadi balian harus punya kekuatan supranatural. Profesi balian sangat rawan. Sebab jadi incaran orang jahil yang punya ilmu leak. Perlu membentengi diri dengan ilmu kanuragan. Tak hanya cukup berbekal ilmu kanuragan dari Bali, perlu juga menimba ilmu di luar Bali. Menurut guruku, tanah Jawa merupakan tempat paling ideal belajar olah kanuragan. Setidaknya enam sasih berguru, aku telah menguasai Ajian Panglebur Sengkala, Berlian Kecubung Ungu, Ajian Gayuh Karaharjan, Mustika Pelet Asmorondono, hingga Ajian Penglaris Manikmulyo.     

“Enam sasih lagi, kamu sudah bisa praktik. Manfaatkan di waktu sisa ini untuk belajar jadi asistenku. Kamu murid yang bapa handalkan. Di dalam tubuhmu ada kekuatan supranatural yang menakjubkan. Tinggal kau bangkitkan dengan meditasi setiap hari. Bapa bangga punya murid sepertimu,” guruku menyanjung. Sepanjang perjalanan menuju Denpasar, guru senantiasa beri nasihat. Sekaligus mengingatkan, jadi balian tak boleh sombong. Sebab balian kerap kali diincar oleh orang-orang beraliran hitam. Aku sangat percaya kata guru. Enam sasih tinggal di pasraman setidaknya aku bisa melihat beragam keanehan itu.

Pasraman sering diganggu penekun ilmu hitam, utamanya saat Wrespati Kliwon atau Malam Jumat Kliwon. Sering kusaksikan segerombolan bola api sebesar kurungan ayam berputar-putar di atas pasraman. Kadang dihiasi tertawa cekikikan nenek-nenek. Biasanya guru tak terlalu menghiraukan. Tetapi jika sudah terlalu jahil, biasanya guru menembakkan sinar kebiruan. Bola api yang kena sinar kebiruan terjatuh ke tanah disertai tangis pilu menyayat hati. Keesokan harinya, warga heboh karena ada yang meninggal dengan tubuh legam terbakar. Asyik ngobrol, tak terasa sudah tiba di kantor pajak.

Setelah mobil terparkir, aku bergegas bukakan pintu untuk guru. Terlihat wajah guru sumringah setiba di kota. Bisa kumaklumi, setiap hari beliau berada di ruangan gelap berteman dupa dan kemenyan. Tiba di kota beliau seperti merasakan atmosfir baru. Guru merapikan kain hitam yang selalu dikenakannya. Pandangannya tajam ke sekeliling.

“Ayo guru, lekas masuk. Kita harus ambil nomor antrean dulu. Mudah-mudahan dapat nomor kecil sehingga tak lama antre,” ajakku.

Guru terlihat ragu saat melangkahkan kakinya. Baru selangkah, sudah berhenti. Tangan kiriku ditariknya. Aku kaget.

“Hati-hati, lingkungan di sini tidak nyaman. Ada kekuatan luar biasa yang menguji kesaktian kita. Kamu harus waspada,” pesannya.

Aku percaya mata bhatin guru sangat tajam. Jika sudah mengatakan ada gangguan, aku yakini kebenarannya. Aku mundur selangkah.

“Kamu bisa merasakan, Made?” tanya guru.

“Maaf guru, saya tidak dapat merasakan apa-apa.”

“Kumaklumi, ada beberapa ilmu yang belum kuwariskan padamu. Utamanya ilmu insting anjing. Penciumanmu belum tajam.”

Aku mencoba pejamkan mata dan memusatkan pikiran, namun tak kurasakan apa-apa. Normal-normal saja. Tak ada keanehan yang bisa kutangkap. Kelima inderaku telah kupekerjakan, lagi-lagi gagal menangkap keanehan.

Aku perhatikan guru mulai mengunyah tembakau. Air tembakau kemudian dimuntahkan ke tanah sebanyak tiga kali. Ajian itu merupakan penetralisir ilmu hitam. Ilmu itu sangat kuat, tetapi aku lihat wajah guru masih pucat. Itu pertanda belum mampu mengalahkan kekuatan yang menyerangnya. Kemudian aku lihat guru komat-kamit merapal mantra. Kali ini mantra berbahasa Jawa Kuna. Keringat tampak membasahi pakaiannya yang serba hitam.

“Made, tolong kau carikan Bapa canangsari dan dupa. Bapa akan kombinasikan mantra Bali dengan mantra Jawa. Kekuatan ini sangat dahsyat,” pintanya.

Tanpa pikir panjang aku bergegas menuju kantin. Untung, dagang di kantin jual canang dan dupa. Kutemui guru dengan barang pesanannya. Aku bantu bakar dupa. Kali ini guru bersikap asana atau duduk bersila. Setelah melakukan pranayama atau pengaturan napas, kemudian merapal mantra-mantra. Semakin lama, gerakan mulut guru kian cepat merapal mantra. Tangannya terlihat gemetar. Keringat kian deras mengucur di tubuhnya. Beberapa kali guru terbatuk-batuk akibat pengaruh asap dupa.

“Baru pertama kali bapa menghadapi ilmu tinggi semacam ini. Bapa telah panggil maha guru untuk membantu, namun kekuatan ini tak bisa diatasi. Mungkin dengan menggabungkan kekuatan yang kau miliki, kita akan mampu mengalahkannya. Ingat, bersatu kita teguh, kekuatan bercerai membuat kita runtuh. Made, kau duduklah di belakangku. Tempelkan kedua tanganmu di punggungku. Kita merapal doa bersama-sama. Kali ini kita coba dengan Ajian Baja Alam Pamungkas. Bergegaslah!” perintah guru.

Aku menuruti permintaan guru. Duduk bersila, pranayama, kemudian menempelkan telapak tangan di punggung guru. Untung aku ingat betul mantra Ajian Baja Alam Pamungkas. Aku harap kali ini dapat membantu guru mengatasi gangguan yang dirasakannya. Aku rasakan tanganku mulai panas. Tubuh guruku seperti api. Kurasakan titik air membasahi tubuhku akibat aura panas guru.

“Maafkan bapa, Made. Kekuatan musuh tak mampu kita kalahkan. Simpanlah tenagamu. Kita jadikan lawan ini sebagai kawan. Kita harus bijaksana, jangan memaksakan kehendak. Ingat di atas langit masih ada langit, dan kita harus kesatria mengakui kekalahan,” ucap guru.

Kulepaskan tangan dari punggung guru. Kulihat wajah guru lebih tenang, kendati pakaiannya lusuh dibasahi peluh. Dalam hati kubertanya-tanya, kekuatan seperti apakah yang menyerang guru. Namun aku tak punya nyali menanyakannya. Takut guru tersinggung.

“Made, kau lihatlah di pintu masuk kantor itu. Di sanalah letak kekuatan itu. Ia seakan mengejek kita. Tapi, bapa sudah mengakui kalah, namun bukan pecundang. Kekuatan itu senantiasa mengejek, setiap ada yang mau masuk, pintu itu dibuka dengan kekuatan sihir. Demikian pula ketika orang sudah masuk ke dalam gedung, ia kembali mengejek dengan kekuatan sihirnya. Lihatlah pintu kaca itu terbuka dan tertutup sendiri. Dia menang, berhasil mengejek kekuatan ilmu kita.”

 

Tabanan, 3 Oktober 2013

 

Catatan:

Balian                     :  Dukun

Usadha                   :  Pengobatan

Pasraman                :  Padepokan

Sasih                       :  Bulan berdasarkan penanggalan Bali yakni 35 hari

Pangleakan             :  Ilmu hitam khas Bali, bisa berubah wujud

Bapa                       :  Ayah, Paman, Guru

Canangsari              :  Rangkaian janur berisi bunga untuk sarana upacara

Asana                      :  Duduk bersila

Pranayama              : Mengatur napas


TAGS :

I Made Sugianto

I Made Sugianto lahir di Banjar Lodalang, 19 April 1979 bertepatan Wraspati Wage Dungulan (Sugian Jawa). Kini istirahat sejenak dari pekerjaan sebagai wartawan NusaBali untuk mengbadi sebagai Kepala Desa di tanah kelahirannya, Desa Kukuh, Kecamatan Marga, Tabanan.

Komentar