Angga Wijaya Berkisah Pasang Surut Kehidupan Melalui Puisi Tidur di Hari Minggu

  • By Silviana Rizkianty Chantika
  • 31 Desember 2022
istimewa

ANGGA Wijaya tak berhenti berkarya. Saya mencoba menganalisis karya puisi penyair asal Jembrana ini dengan pendekatan mimetik. Pendekatan kajian sastra yang menitikberatkan terhadap hubungan karya sastra dengan kenyataan di luar karya sastra. Pendekatan yang memandang karya sastra sebagai imitasi dan realitas (Abrams 1981 :89). Aristóteles berpendapat bahwa mimesis bukan sekadar tiruan, bukan sekadar potret dan realitas, melainkan telah melalui kesadaran personal batin pengarangnya. Melalui puisi yang dihimpun dalam kumpulan puisi Tidur di Hari Minggu saya menemukan Angga Wijaya bercerita tentang pasang surut kehidupan.

Pada puisi berjudul Kipas Angin, merepresentasikan tentang hubungan kesetiaan dan rasa kasih sayang yang diberikan oleh seseorang kepada orang yang ia sayangi dalam kehidupan. Pada bait 1 dan bait 2 menggambarkan kipás angin yang memutar dirinya tanpa lelah meskipun penuh debu dan digunakan bertahun-tahun. Tetapi rasa cintanya tak pernah mati. Bagaikan cinta orang tua kepada anaknya. Rela bekerja keras menghadapi berbagai tantangan, lelah, dan letih tak pernah ia hiraukan demi menafkahi keluarga yang ia cintai tanpa pernah usai. Ketika anak-anaknya pulang ke rumah, orang tua selalu menyambut dengan rasa cinta dan kehangatan, meskipun jarak memisahkan tetapi orang tua akan selalu menjadi rumah yang memberikan kesejukan bagi anak-anaknya.

Begitulah orang tua yang kasih sayangnya tidak pernah mati untuk anaknya. Terutama seorang ibu yang selalu menjadi sandaran ketika anaknya tidak mampu berdiri kokoh. Selalu menjadi tameng ketika anaknya mengalami kesulitan serta selalu menjadi cahaya ketika anaknya mengalami kegelapan.

Puisi Malam Sebelum Purnama menggambarkan kasih sayang seorang ibu bagaikan bulan yang secercah cahayanya selalu ada melewati kegelapan.

Cahaya keluar dari celah

Hingga purnama kembali

Sinarnya lembutkan hati

Bagaikan bulan yang meskipun sebelum purnama selalu menerangi, begitulah sosok seorang ibu yang selalu menemani, membimbing, dan menyayangi anaknya setulus hatinya tanpa pamrih. Kita sebagai manusia senantiasa membutuhkan Tuhan sebagai penunjuk arah seperti pada puisi berjudul Api Suci. Menggambarkan bahwa api sebagai saksi kesetiaan, sebagai saksi doa memohon keberkahan, serta sebagai saksi upacara terakhir kehidupan. Kenyataan dari makna puisi tersebut dalam kehidupan ini bahwa berkah Tuhan yang senantiasa menemami setiap langkah kita. Berkah-Nya akan padam ketika tidak ada lagi rasa kesetiaan yang kita tunjukkan sebagai umat, lupa berdoa serta tidak pernah mengucap syukur. Tuhan Yang Maha Kuasa yang bagaikan api suci. Tempat di mana kemalangan sirna dengan senantiasa berdoa memohon berkah dan anugerah-Nya sehingga segala kesulitan dan kemalangan niscaya akan sirna.

Begitulah kehidupan yang kerap mengalami pasang surut bagaikan ombak, sehingga kita sebagai manusia harus senantiasa mengingat Tuhan sebagai tempat memohon berkah dan anugerah-Nya. Pada puisi berjudul Kopi Dini Hari yang menggambarkan ketenangan. Bahwa apapun permasalahan yang kita hadapi, apa pun perbuatan yang telah kita lakukan, akan selalu ada kesempatan untuk memperbaiki diri menjadi lebih baik. Seperti puisi berjudul Purnama Belum Usai menyiratkan perbincangan yang amat jauh menembus relung hati.

Akulah perampok pendosa

penjahat biadab abad lalu

di bukit semut pencerahan

Semua manusia memiliki masa lalu, pernah melakukan perbuatan baik maupun buruk, bahkan menghadapi berbagai permasalahan yang dilalui. Namun, bagaikan bulan purnama yang selalu datang setiap bulannya, begitupun kesempatan yang akan selalu datang dalam kehidupan ini memberikan kita waktu dan jalan untuk berubah memperbaiki diri menjadi lebih baik. Anggap masa lalu sebagai pengalaman, simpan yang baik dan lupakan yang buruk, karena semasih manusia diberikan kesempatan untuk hidup maka manusia harus berusahan berubah menjadi lebih baik.

Manusia dituntut bekerja untuk memenuhi kebutuhan, rasa lelah, penat, malas sering kali menghampiri. Tetapi tidak ada salahnya jika mesin pabrik beristirahat untuk memulihkan kinerjanya, sama halnya dengan tubuh manusia. Puisi Tidur di Hari Minggu menyiratkan tubuh seorang pekerja kantoran yang perlu tidur dan beristirahat sebelum menghadapi hari esok yang harus kembali produktif.

Tidur obat mujarab segala lelah, juga baik untuk jiwa kota yang sakit

Kami berencana makan es krim di gerai dekat rumah.

Begitulah kira-kira gambarannya bahwa manusia tidak bisa terus bekerja mengejar kebahagiaan material. Istirahat dan berbincang-bincang dengan orang terkasih merupakan hal sederhana yang diperlukan dalam membahagiakan jiwa dan pikiran.

Begitulah kerasnya kehidupan menuntut manusia untuk terus bekerja bahkan hingga merantau ke kota atau negeri orang. Kita menjadi orang asing yang penuh persaingan mencari nafkah kehidupan.


TAGS :

Silviana Rizkianty Chantika

Silviana Rizkianty Chantika lahir di Bandung,17 Desember 2001. Mahasiswi aktif di Universitas PGRI Mahadewa Indonesia Prodi Pendidikan Bahasa Indonesia dan daerah Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan. Hobi

baca novel, cerpen, komik, dan traveling. WA 087716622067. Instagram: silvianariskianty, email:[email protected]

Komentar