PUISI-PUISI ARDHI RIDWANSYAH
By Ardhi Ridwansyah
- 21 Juni 2025
RANTUS
Dia pulang muram dan lebam
Di tubuhnya kata dan koma
Tegas menikam
Lugas menerkam
Ini cinta kadung lusuh
Tanpa sangka tanpa angkuh
Kini luka telah direngkuh
Menusuk jantung berdetak pilu
Ada jerit yang terdengar sunyi
Ada jerih yang tak terlihat lagi
Ingat-ingat belai lintuh jemari
Yang menyengat hangat
Telah beku dan rengat kini
Sedang mesra bibir
Sekadar puisi
Yang dibaca tanpa impresi.
Jakarta, 2025
MENEPI
Segetir itu kering malam
Hadirkan gersang dan ngilu
Tapi hujan kini tiba
Siram penat dengan denting
Di jalan riuh kendara
Bising mesin-mesin kota
Yang tak kenal sunyi
Tak lelah bernyanyi
Orang-orang
Menepi karena getar
Sampai titik nadi
Sebab gentar
Kena basah berkali-kali.
Deras sudah redam
Namun getas masih
Ada di dalam.
Meski sisa gerimis
Tak berani kaki melangkah
Termangu dan ragu
Mau tak mau setiap tetesnya
Jatuh menjadi elegi
Menjelma waktu
Yang beku dan tak berdaya
Istirah di pangkuan kelam
Jakarta, 2025
MENDAKU
Akulah puisi
Yang kau ingat
Setiap detak jantung
Setiap detik waktu
Tak berujung
Akulah puisi
Yang kau genggam
Kau simpan di kutangmu
Berpeluh desah
Berkeluh resah
Akulah puisi
Yang kau baca
Berulang kali
Tetap sukar dimengerti
Tetap kusut dipahami.
Akulah puisi
Kau remas dan kau bakar
Usai abu segala kata
Masih ingat diksinya
Masih kenang
Penyairnya.
Jakarta, 2025
TUGU LUGU
Kelopak mata rekah
Gairah malam terpantul
Kala darah mendesir
Liar bergerak
Menggertak
Sebuah tugu, katamu
Dibangun sebagai peringatan
Dan kini kau bersimpuh
Di kedua pangkal
Penopang daksa berdiri kukuh
Menatapnya dalam-dalam
Merabanya pelan-pelan.
"Anying, kenapa ketawa?"
Dan senyum beranak pinak
Di bibir dan retina: "Lucu, hihi."
Bila dekap malam sulit
Biar peluk ini barang
Tegak menantang
Hasrat yang berdentang!
Belai lintuh dari lidah
Penuh madu penuh rindu
Jadikan selimut
Kumpulan mawar
Terbentang kasih
Tanpa tawar-menawar
Ini murni dari dada
Yang berapi
Siap berbagi
Untuk dinikmati
Sampai pagi
Sampai mati.
Jakarta, 2025
DENGAR
Kau dengar?
Debar debur rindu
Bergerak dari darah
Menuju bahu
Pikul tubuhmu
Yang biru.
Hasrat
Terkulai lesu
Dedaunan kuning
Yang bisu sebab
Terkapar terurai
Tercabik hujan
Masai!
Kau rasa?
Jiwa dan nyawa
Meronta-ronta
Hendak bersua
Sepasang mata
Harap tak sia-sia
Gemuruh haru
Rangkak berjibaku
Dalam kelu lidah
Dalam kalbu gundah.
Jakarta, 2025
MELANKOLIA
Sehari ini cuaca
Mendung dan hujan
Sebagai senandung
Mengantarkan salam
Dari angin yang
Kandung murung.
Setiap tetes sapa
Genting atap yang lama
Sunyi biar ia berkata dalam
Gigil dan dilema
Dingin daksa ingin rasa
Dekap mesra bara menyala
Sepanjang waktu setitik
Air mata jadi
Sejengkal cenderamata.
Masih belum reda dari
Pagi hingga senja
Sebegitu sendu ini hari
Sebegitu biru ini hati
Jakarta, 2025


Komentar