Teduh Langit dan Puisi Lainnya: S. Sigit Prasojo
By S. Sigit Prasojo
- 25 Agustus 2025
Luka Tak Terucap
Ada luka
yang tak muncul di kulit,
tak juga di mata.
Ia duduk tenang
di balik senyum,
mengendap di celah doa
yang setengah diucap.
Aku menemuinya malam ini,
bukan untuk menyembuhkan,
tapi untuk bilang:
aku tetap di sini,
meski kau tak pernah
sepenuhnya pergi.
Ponorogo, Juli 2025
Benih
Satu benih tak bertanya
akan tumbuh di tanah mana,
ia hanya diam
dan percaya pada gelap
yang memeluknya.
Hidup kadang tak perlu tahu
apa yang akan mekar.
Yang penting:
kau masih bertahan
meski tak pernah disapa cahaya.
Ponorogo, Juli 2025
Jejak Sunyi
Tak semua perjalanan
meninggalkan jejak pada tanah.
Ada yang tertinggal
di dalam dada,
diam-diam mengetuk
setiap kali malam tiba.
Langkahku tak keras,
tapi bumi tahu
aku pernah menyusuri luka
tanpa mengaduh.
Sunyi pun mencatat—
lebih teliti dari waktu.
Ponorogo, Juli 2025
Dalam Diri
Aku pernah pergi jauh
mencari jawaban,
lalu pulang
dengan pertanyaan yang lebih hening.
Ternyata banyak hal
tak perlu ditemukan,
cukup dirasakan
dalam-dalam
seperti langit
yang tak habis ditatap
tapi selalu terasa cukup.
Ponorogo, Juli 2025
Teduh Langit
Langit hari ini tak biru,
tapi teduhnya menyentuh.
Seperti hati yang tak lagi terang,
namun tak juga gelap—
hanya belajar menerima.
Aku berdiri di bawahnya
tanpa tanya apa-apa,
karena kadang
yang paling menenangkan
bukan jawaban,
melainkan langit
yang tak menghakimi gelisahku.
Ponorogo, Juli 2025


Komentar