Lima Puisi Zikri Amanda Hidayat
By Zikri Amanda Hidayat- 14 Desember 2025
Pada Suatu Malam
Bulan sabit jatuh di senyummu
Nyala candu, menuntunku merayu
Mataku laksana langit malam
Matamu kedipan bintang-bintang
Rindu menggema angin memburu
Jantungku lepas, lari berkaki debar
Ornamen kulit putih dan emas kilau
Aku ingin perangi napasmu yang mulai parau
O, peri cinta, sebelum kau datang memanah hati kami
Biarkan busur bibirku menjadi manis
Lalu membunuh pemberontakan kekasih
Anak panah mesra berpadu lembut di dua bibir Pantai
Bisik-bisik gelombang mengalun saksi
Dan bidak hasrat ziarah ke bukit madu
Padang, 2025
Patah Hati
Tengah malam mulai mengembara hati
Menyusuri padang berlumpur rumput duri
Bunga Lily tumbuh lebih rimbun pada jembatan bibir
Lalu-lalang kata-kata seperti serangga kecil yang kehilangan rumah
Kupu-kupu dari lembah lembap
Kepak sayap tanpa suara
Mencari ladang kering di samping reruntuhan bangunan tua
Anak-anak rinai hanya ingin mengunjungi lubang selayak taman genang
Kadang tersesat lalu mati menjadi kenang
Jalan itu sunyi
Di seberang tampak api berkobar
Membakar obor-obor bersumbu perca angan
Seperti sedang ada perayaan pemburu waktu
pulang membawa hujan paling lekang
Padang, 2025
Rindu
Bulan pecah di matamu
Berhamburan menjadi laut
Pasang surut menyapu kerang-kerang rindu
Pantai itu lembap seketika
Mengisahkan jejak gelombang kekasih
Apa yang kau miliki dari jarak pulau kecil di seberang sana
Tampak buram tak punya mata bercahaya mercusuar:
Isyarat petunjuk rumah ke mana harus pulang
Ikan-ikan merindukan langit biru
Seperti ingin terbang ke awan-awan yang menyimpan matahari
Sepi lebih pekat di tengah samudera
Tapi nelayan tetap menjala
Dan karam adalah hasil tanggapan paling disenangi badai
Kau jelmaan pohon kelapa di pinggir pantai
Menanggalkan kering kuning daun-daun kelapa duka
Jatuh ke tanah sebagai hikayat harapan
Kau pun melihat dermaga disinggahi kapal-kapal mewah
Klakson angin yang parau tak dapat memalingkan pandangmu
Kau selayaknya niscaya kepada senja merah saga
Menunggu datang sang kapal tua tanpa nahkoda
Padang, 2025
Kebersamaan
Sepasang matamu menuntunku
Lentik bulu mata serupa rambu-rambu
Perjalanan yang senantiasa kudamba
Kerap menjelma lampu jalan rute menuju rumah
Pipimu adalah pantai cantik tersembunyi dari pelancong
Tapi bagiku, pantai berwarna rona dadu
Tersipu malu-malu ketika dirayu rindu
Barangkali kaulah lautan tempat aku terombang-ambing
oleh ombak parfum khasmu
Semerbak yang tiada tahu kedalamannya
Terdampar semata perahu senyum itu
Dan kapan pun aku akan memilih karam seutuhnya
Percakapan kita alir sungai ke hilir tenang
Bunga teratai yang mekar menjadi bahasa cinta
di hadapan segala riak-riak canda tawa
Kebersamaan ini mari kita tumbuhi dengan bunga tulip
di padang waktu sebelum waktu mengarsipkan kita pada mading kekal; surga
Padang, 2025
Pertemuan
Delegasi pergantian sore ke malam adalah
segerombolan kelelawar pulang ke sarang
Melintasi langit barat dengan kembang senja
bertangkai remang
Bagi para penakluk jarak tampak sebagaimana
ornamen indah yang cemerlang
Di ambang pintu senyummu, aku menemukan
sepasang hutan alis melengkung seperti bulan sabit
tertelungkup
Di baliknya ada kabut tipis
Menyelimuti dua mata telaga yang manis
Seperti telaga kembar yang menenangkan
Ketika kita berhadapan
Hujan pun turun pada celah kabut
Membuat air matamu melimpah
Mengalir ke tanah pipi gembur berwarna merah muda
Cinta hanyut hingga ke tubuh vilaku di tubir telaga
Yang memiliki tiang lengan memeluk hangat kekasih
Lalu mengantar hati bertaut menuju rindu yang abadi
Padang, 2025


Komentar