Yogyakarta dan Puisi-puisi lainnya

  • By Yanuar Abdillah Setiadi
  • 28 Desember 2025
Pexels

Desember

Ia kembali hadir 
memecuti diriku
Mengingatkanku
Menyadarkanku
bahwa bual-bual
awal tahun
lama-kelamaan
akan menjadi sesal
di akhir tahun.

Purbalingga, 2025


Anak Revolusi yang Sudah Duduk di Kursi

Topinya serupa Che Guevara
Melantangkan revolusi sedini mungkin
Ia kepal-kepalkan tangan 
seolah-olah langit akan tunduk pada bual
kata-katanya.
Ia tinju langit berkali-kali agar Tuhan tau
siapa saja yang menentangnya akan
binasa dalam kehancuran.

Anak revolusi itu kini telah duduk di singgasana
Ia tidak suka meninju lagi 
Ia lebih suka menepis;
menepis pendapat, menepis tuduhan,
menepis aduan
dan menepis
dirinya yang dahulu.

Purbalingga, 2025


Senja

Matanya serupa seruan seorang ibu
yang meminta anaknya pulang ke 
peraduan.
Pulang adalah bentuk kalah
paling
ramah.

Purbalingga, 2025


Mabuk

Sejak malam
hingga pagi hari
penyair yang budiman
belum siuman
setelah semalaman 
mabuk kata dengan pena,
tinta dan cinta.

Purbalingga, 2025


Yogyakarta

Kepadatan di media sosial
tentang Yogya serupa
bual-bual
yang diamini banyak
orang.

Purbalingga, 2025

 


TAGS :

Yanuar Abdillah Setiadi

Lahir di Purbalingga, Januari 2001. Mukim di Desa Timbang, Kecamatan Kejobong, Kabupaten Purbalingga. Mahasiswa Magister Manajemen Pendidikan Islam UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto. Alumnus Pendidikan Bahasa Arab di kampus yang sama. Dua bukunya berjudul Mengaji Pada Alif (2023) dan Melihat Lebih Dekat (2024).  Nominator Terminal Award Mojok.co Yogyakarta tahun 2023.  Buku terbarunya Wajah Purwokerto: Antara Cinta, Suka dan Duka di Kota Satria (Penerbit Kolofon Yogyakarta, 2025) Instagram: @yanuarabdillahsetiadi.

Komentar