Yogyakarta dan Puisi-puisi lainnya
By Yanuar Abdillah Setiadi- 28 Desember 2025
Desember
Ia kembali hadir
memecuti diriku
Mengingatkanku
Menyadarkanku
bahwa bual-bual
awal tahun
lama-kelamaan
akan menjadi sesal
di akhir tahun.
Purbalingga, 2025
Anak Revolusi yang Sudah Duduk di Kursi
Topinya serupa Che Guevara
Melantangkan revolusi sedini mungkin
Ia kepal-kepalkan tangan
seolah-olah langit akan tunduk pada bual
kata-katanya.
Ia tinju langit berkali-kali agar Tuhan tau
siapa saja yang menentangnya akan
binasa dalam kehancuran.
Anak revolusi itu kini telah duduk di singgasana
Ia tidak suka meninju lagi
Ia lebih suka menepis;
menepis pendapat, menepis tuduhan,
menepis aduan
dan menepis
dirinya yang dahulu.
Purbalingga, 2025
Senja
Matanya serupa seruan seorang ibu
yang meminta anaknya pulang ke
peraduan.
Pulang adalah bentuk kalah
paling
ramah.
Purbalingga, 2025
Mabuk
Sejak malam
hingga pagi hari
penyair yang budiman
belum siuman
setelah semalaman
mabuk kata dengan pena,
tinta dan cinta.
Purbalingga, 2025
Yogyakarta
Kepadatan di media sosial
tentang Yogya serupa
bual-bual
yang diamini banyak
orang.
Purbalingga, 2025


Komentar