Iki Pangiwa

  • By I Made Sugianto
  • 29 April 2026
Cover buku Iki Pangiwa

Di balik setiap bisikan angin, di tengah sepi malam yang diliputi wangi menyan dan nyala lilin kecil, warisan magis leluhur Nusantara tetap berdenyut dalam kehidupan masyarakat Bali menjadi penuntun, penjaga, sekaligus pengingat akan akar-akar purba yang menghubungkan manusia dengan alam, para leluhur, dan kekuatan tak kasatmata. Inilah dunia Pangiwa: jejak spiritual yang lahir dari tanah, lautan, dan langit Bali; sebuah jalan sunyi yang hanya bisa dilalui oleh mereka yang berani menatap terang dan gelap kehidupan tanpa takut kehilangan diri.

Buku “Iki Pangiwa” hadir bukan sekadar sebagai dokumen kebudayaan, melainkan sebagai pintu rahasia menuju pemahaman lebih dalam tentang struktur mantra, simbolisme, sarana, serta etika dalam tradisi Pangiwa. Melalui penelusuran lontar, wawancara dengan balian, dan pengalaman batin para praktisi, buku ini mencoba merangkai kembali puzzle pengetahuan kuno yang selama ini tersembunyi di balik ritual-ritual, upacara, dan bisikan antara guru-murid.

Di sini, pembaca diajak menyelami hakikat mantra bukan sekadar kata, melainkan getaran primordial yang menjadi jembatan antara dunia sekala dan niskala, serta memahami simbol-simbol magis yang tidak hanya sebagai ornamen, tetapi sebagai “bahasa rahasia” kosmos yang menyimpan kunci-kunci harmoni, perlindungan, dan transformasi diri.

Sarana-sarana seperti tumpeng bang, menyan astanggi, tulang, benang tridatu, hingga air suci, dikupas bukan hanya dari sisi fisik, namun juga dari makna batin dan peranannya sebagai media penghubung antara niat manusia dan restu semesta. Setiap bab menekankan pentingnya disiplin, etika, serta niat suci dalam setiap laku spiritual, menegaskan bahwa kekuatan Pangiwa bukan alat kekuasaan, melainkan pengetahuan luhur untuk menjaga keseimbangan hidup melindungi, menyembuhkan, dan merawat, bukan menaklukkan.

Buku ini juga mengingatkan bahwa di era modern, ketika teknologi dan kebisingan dunia semakin menenggelamkan keheningan batin, warisan Pangiwa tetap relevan sebagai penawar, pegangan, dan jembatan untuk kembali menemukan harmoni dengan alam dan diri sendiri. Generasi muda diundang untuk “membaca ulang” tradisi ini, bukan sebagai folklor semata, melainkan sebagai ilmu hidup yang terus menyesuaikan zaman tanpa kehilangan akar dan roh spiritualnya.


TAGS :

I Made Sugianto

I Made Sugianto lahir di Banjar Lodalang, 19 April 1979 bertepatan Wraspati Wage Sungsang (Sugian Jawa). Kini istirahat sejenak dari pekerjaan sebagai wartawan NusaBali untuk mengbadi sebagai Kepala Desa di tanah kelahirannya, Desa Kukuh, Kecamatan Marga, Tabanan.

Komentar