Dari “Praktek” ke “Praktik”: Pentingnya Membiasakan Penggunaan Kata Baku

  • By Intan Kharisma Putri
  • 12 Juni 2026
Ilustrasi hanya pemanis.

Bahasa merupakan bagian penting dari identitas suatu bangsa. Oleh karena itu, penggunaan bahasa yang baik dan benar perlu diterapkan, terutama di ruang publik yang dibaca banyak orang. Namun, hingga saat ini masih ditemukan kesalahan penulisan kata baku dalam kehidupan sehari-hari. Salah satu yang paling sering muncul adalah penulisan kata “praktik” yang ditulis menjadi “praktek”.

Kesalahan penulisan ini mudah ditemukan di berbagai tempat, seperti papan nama, media sosial, spanduk, hingga berita online. Tulisan seperti “praktek dokter” dan “jadwal praktek” masih sering digunakan. Padahal, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, bentuk baku yang benar adalah “praktik”, sedangkan “praktek” merupakan bentuk tidak baku.

Masyarakat menganggap penulisan “praktek” sudah benar karena terbiasa mengucapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Pengaruh ucapan memang membuat seseorang menulis sesuai dengan apa yang diucapkan. Selain itu, kurangnya perhatian terhadap penggunaan bahasa baku juga menjadi penyebab kesalahan tersebut terus berulang. Sebagian orang menganggap perbedaan antara “praktik” dan “praktek” tidak terlalu penting karena maknanya sama. Padahal, dalam bahasa Indonesia, penggunaan kata baku memiliki aturan yang harus dipatuhi agar penulisannya sesuai dengan kaidah kebahasaan.

Meskipun terlihat sederhana, penggunaan kata baku sebenarnya sangat penting. Penggunaan kata baku membantu menciptakan komunikasi yang lebih jelas dan mudah dipahami. Selain itu, penggunaan kata yang benar juga dapat menjadi contoh bagi masyarakat. Jika kesalahan penulisan dibiarkan, masyarakat akan menganggap bentuk yang salah menjadi wajar. Akibatnya, penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar sesuai kaidah kebahasaan akan sulit diterapkan.

Dalam konteks pembinaan bahasa, penggunaan kata baku memiliki peranan penting. Pembinaan bahasa bertujuan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat agar menggunakan bahasa Indonesia sesuai kaidah. Jika masyarakat terbiasa menggunakan kata tidak baku, kualitas penggunaan bahasa Indonesia dapat menurun. Oleh karena itu, pembinaan bahasa perlu dilakukan secara terus-menerus agar masyarakat memahami pentingnya penggunaan bahasa yang benar.

Lingkungan pendidikan juga memiliki peran penting dalam pembinaan bahasa. Guru dan lembaga pendidikan dapat menjadi contoh dalam penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Jika di lingkungan sekolah masih ditemukan penggunaan kata tidak baku, siswa akan menganggap bentuk tersebut benar dan terus menggunakannya. Akibatnya, kesalahan penggunaan dapat diwariskan terus-menerus kepada generasi berikutnya.

Perkembangan teknologi juga dapat membantu proses pembinaan bahasa. Saat ini, masyarakat dapat dengan mudah memeriksa penggunaan kata baku melalui KBBI daring ataupun sumber lainnya di internet. Sosialisasi penggunaan bahasa Indonesia dapat dilakukan melalui media sosial, poster digital, dan berbagai konten edukatif lainnya. Dengan cara tersebut, masyarakat lebih mudah memahami penggunaan kata yang benar sehingga terbiasa menggunakannya dalam kehidupan sehari-hari. 

Selain itu, generasi muda memiliki peran penting dalam menjaga penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Generasi muda yang aktif menggunakan media sosial seharusnya dapat menjadi contoh dalam penggunaan kata baku. Jika generasi muda membiasakan penggunaan kata “praktik” dibandingkan “praktek”, kebiasaan tersebut akan memengaruhi masyarakat secara luas. Pembinaan bahasa tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah atau lembaga pendidikan, tetapi juga seluruh masyarakat.

Penulisan kata “praktek” menunjukkan bahwa pembinaan bahasa masih perlu diperkuat. Memang terlihat sepele, tetapi penggunaan kata tidak baku dapat memengaruhi kualitas bahasa Indonesia di lingkungan masyarakat. Oleh karena itu, penggunaan kata “praktik” perlu terus dibiasakan dalam tulisan resmi maupun kehidupan sehari-hari agar bahasa Indonesia tetap terjaga dan digunakan sesuai kaidah yang benar.


TAGS :

Intan Kharisma Putri

Ni Luh Made Intan Kharisma Putri lahir di Denpasar, 21 Juli 2005. Saat ini, merupakan mahasiswa semester 6 Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia dan Daerah, Universitas PGRI Mahadewa Indonesia. Aktif mengikuti berbagai organisasi kampus, seperti UKM Jurnalistik, UKM PIK-M Widyadari, UKM Public Speaking, Senat Mahasiswa Fakultas Bahasa dan Seni, serta Himpunan Mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia dan Daerah. Pernah menjabat sebagai Sekretaris Umum I UKM Jurnalistik, Sekretaris Umum II Senat Mahasiswa Fakultas Bahasa dan Seni, serta Wakil Koordinator Divisi KIE (Komunikasi, Informasi, dan Edukasi) pada organisasi PIK-M Widyadari. Adapun karya yang pernah dipublikasikan, yaitu esai magang berjudul “Dari Ruang Produksi Hingga Ruang Siar: Pengalaman Magang di RRI Denpasar” dan prosiding PEDALITRA IV berjudul “Sastra Digital dan Perubahan Budaya Literasi Masyarakat di Era Teknologi”.

Email: intankharisma2121@gmail.com

Instagram : @intankharismaap

Komentar