Antara Luka dan Cinta dalam Antologi Cerpen Layar
By Yohana Purnama Fajar- 04 Juli 2026
Judul Buku : Layar (Antologi Cerpen)
Penulis : Gayatri Mantra
Penerbit : Pustaka Ekspresi
Tahun Terbit : Cetakan Pertama, April 2017
Jumlah Halaman : 223 Halaman
Ilustrasi Sampul : Mohamad Firmandaru
Desain Cover : Agus Ryan
Tata Letak : I Made Sugianto
ISBN : 978-602-7610-96-5
Gayatri Mantra adalah seorang penulis yang berasal dari Grenceng, Denpasar. Beliau adalah sosok perempuan tangguh yang telah menggarap banyak tugas selama hidupnya. Almarhum wafat pada hari Selasa, 13 Februari 2024 dengan kepergian penuh damai, mengakhiri segala keusikan jiwanya. Dalam kumpulan cerpen ini pengarang dominan menuliskan cerita yang berkaitan dengan martabat dan harga diri seorang perempuan dalam kehidupan. Setiap penggalan cerpen yang dibaca, memiliki makna tertentu yang mengandung goresan dalam setiap hati pembaca. Jika dilihat dari gaya penulisannya, sang penulis memiliki perhatian penuh terhadap kaum perempuan. Penulis memuat berbagai cerita yang mengandung emosi dan refleksi, khususnya mengenai kehidupan perempuan, hubungan dalam keluarga, serta nilai kemanusiaan yang sering dianggap kecil oleh orang-orang yang tidak menyadari arti dari menghargai sesama.
Dalam buku Antologi Cerpen Layar, menyajikan 21 cerita pendek yang memiliki alur cerita berbeda akan tetapi makna dalam setiap cerita itu saling berkaitan dan mampu membangkitkan emosional setiap pembaca dalam mengekspresikan berbagai cerita tersebut. Cerpen tersebut meliputi, “Purusa”, “Gaun Merah di Ujung Malam”, Layar, “Bakao”, “Sang Pematung”, “Wanita Senjata”, “Sandikala”, “Bayiku”, “I Merah”, “Bulu-bulu Angsa”, “Ray dan Sebentuk Wajah”, “Padang Savana”, “Kori”, “Kota”, “Rahim Peradaban”, “Sang Prabhu”, “Celana Dalam”, “Tidak Perawan Lagi”, “Megalomanius”, “Laskar Bayangan”. Ada dua cerpen yang memiliki keterkaitan makna dan mengandung makna yang mendalam bagi pembaca, yaitu cerpen “Tidak Perawan Lagi” dan “Sang Pematung”.
Cerpen Tidak Perawan Lagi, merupakan salah satu cerpen yang sangat tragis dan mampu membangkitkan emosional pembaca. Cerpen ini menceritakan bagaimana seorang anak perempuan yang kehilangan kepercayaan dan sandaran ternyamannya. Dia mengharapkan bahwa keluarga adalah tempat dia membagi keluh kesahnya, akan tetapi ternyata keluarga sendiri yang menghancurkannya. Begitu sakit rasanya ketika gadis tersebut mengatakan “..Bagaimana jika aku tidak perawan lagi? Bapak yang melakukan itu semua padaku..”(hal.107). Gadis itu berani mencurahkan segala beban pikiran yang dia tanggung sejak kelas 4 SD. Ia berbagi aib keluarganya kepada sang kekasih yang dia anggap sebagai orang yang tepat untuk dia bercerita. Tidak hanya kehilangan kepercayaan kepada sosok Ayah, gadis itu juga kehilangan rasa percaya kepada Ibunya, karena sosok ibu tidak membelanya ketika dia melaporkan Bapaknya ke Kantor Polisi, hanya demi menjaga aib keluarga .. “Ibu memintaku minum pil. Dulu katanya itu jamu untuk kesehatanku. Belakangan ketika aku dewasa, aku baru tahu itu pil kontrasepsi”( hal. 108).
Sedangkan Cerpen Sang Pematung, merupakan cerpen yang sangat menyentuh emosional pembaca, karena kisah yang disajikan penulis sangat bersentuhan dengan psikologis manusia. Kisah yang disajikan menceritakan bagaimana perjuangan seseorang ibu yang ingin mempunyai anak, sedangkan di sisi lain sekelompok anak ditelantarkan oleh orang tuanya di Panti Asuhan. Cerpen ini menceritakan dua kisah yang saling bertautan dan mengandung nilai rasa tertentu terhadap manusia. Jika dilihat, pada bagian pertama penulis menceritakan bagaimana kerinduan dari sekelompok anak kecil yang lahir tanpa keinginan dari orang tua sehingga mereka harus menjalani kehidupan di Panti Asuhan. Mereka harus berbagi kasih sayang dengan saudara-saudara mereka di Panti “...anak-anak berebutan untuk mendapatkan perhatian Ibu. Satu bergantung di bahunya, dan yang lain memeluk kakinya, bergayut pada tangannya, memeluk leher dari depan dan belakang. Bagi kami semua, setiap noktah diri ibu begitu berharga...”(dikutip dari hal.27). Dan di bagian kedua, menceritakan Ketulusan dan keinginan seorang perempuan dalam menginginkan seorang bayi ketika dia berdoa “O Hyang Betari, berikan aku kesempatan menjadi seorang ibu. Berikan aku anak yang dapat kulahirkan dari rahimku....”(hal.28). Begitu tulus doa seorang Ibu yang menginginkan hadirnya jabang bayi dalam kandungannya, sedangkan manusia lain yang di karunia kepercayaan meninggalkan tanggung jawab sebagai orang tua dan melepas begitu saja. Seorang anak tidak bisa lahir di dunia apabila kita sebagai manusia tidak meminta dan tidak diberi kepercayaan oleh yang maha kuasa. Anak adalah titipan yang harus dijaga, karena tidak semua orang diberi kepercayaan untuk menjaga titipannya.
Buku antologi cerpen ini memiliki tujuan yang jelas, yaitu untuk menyadarkan kita sebagai pembaca bahwa patutnya menghargai seorang perempuan dan seorang anak. Kita harus menjaga dan melindungi anak sebagai harta yang tidak bisa di sentuh secara bebas oleh orang lain. Jadikan diri kita, sebagai tempat untuk anak pulang dengan segala keluh-kesahnya. Jangan membiarkan seorang anak mencari sandaran di tempat lain, karena itu menunjukan bahwa kita gagal menjadi orang tua sekaligus sahabat yang baik bagi anak.
Sedangkan, kekurangan dari buku ini, yaitu penulis banyak menggunakan kata-kata yang ekstrim dalam menyampaikan cerita yang disajikan. Tidak hanya itu penulis juga menggunakan istilah dalam Bahasa Bali, dan tentunya penggunaan istilah itu akan menghambat pemahaman pembaca yang bukan orang Bali atau yang tidak memahami Bahasa Bali. Istilah tersebut meliputi “Parum agung, Pecalang, gamia gamana, Suwun, Bekung, dan lain sebagainya”. Meskipun penulis menerjemahkan satu dua kata di akhir cerita, akan tetapi pembaca tidak hanya cukup memahami arti kata tersebut, karena mereka juga tentunya harus mengetahui bagaimana nada, dialek, dan intonasi ketika mengucapkan kata-kata atau istilah tersebut. Ilustrasi hanya sebatas pada sampul buku, dengan lukisan yang tidak terlalu jelas dan perpaduan warna dalam lukisan tersebut tidak menyatu sehingga konsepnya tidak terlalu menarik untuk ilustrasi sampulnya.
Buku ini memiliki alur yang setiap sub-buku itu memiliki keterkaitan makna, yaitu banyak membahas tentang kedudukan perempuan baik dalam rumah tangga dan keluarga ataupun saudara. Penyajian setiap bagian buku bersusun dan judulnya sesuai dengan isi buku sehingga pembaca mudah memahami setiap bagian cerita. Sedangkan, gaya bahasa yang digunakan penulis banyak mencerminkan perasaan dan diksi yang digunakan mampu membangkitkan emosional pembaca. Penulis juga menggunakan majas atau gaya bahasa dalam mengungkapkan maksud dari perkataannya.
Buku ini tidak direkomendasikan untuk menjadi bahan pelajaran bagi anak-anak yang masih di bangku SD, SMP SMA/SMK, atau masih di bawah umur karena penyajian cerita banyak mengandung narasi kekerasan seksual, dan kekerasan fisik yang dapat mengganggu psikologis seorang anak yang masih dalam tahap pertumbuhan. Gaya bahasa yang digunakan penulis juga sangat tidak dianjurkan untuk anak-anak yang masih dalam tahap awal mengenal suatu karya sastra. Gaya bahasa yang disajikan cukup berat sehingga perlu pemikiran yang kritis dalam memahami cerita tersebut. Justru sebaliknya, buku ini sangat direkomendasikan untuk pembaca dewasa atau orang yang sudah menjadi orang tua agar bisa lebih banyak memahami bagaimana menjadi orang tua yang sepatutnya bagi anak. Karena, makna dalam setiap cerita yang disuguhkan tidak hanya tentang anak, akan tetapi bagaimana cara memandang perempuan dalam kehormatannya.


Komentar