Di Bawah Langit Klungkung Tempat Cinta dan Sejarah Bertemu dalam Sajak

  • By Ayu Kahuatu Tamar
  • 06 Juli 2026
Koleksi pribadi

Judul buku: buku harian ibu belum selesai
Penulis: I Wayan Suartha
Pengantar: Umbu Landu Paranggi
Penerbit: Prasasti
Ilustrasi sampul: Nyoman Wirata
Percetak: Nengah Linggih
Tahun cetak: Cetakan pertama, November 2020
ISBN: 978-623-95332-1-2
Jumlah halaman: 87

Buku antologi puisi Buku Harian Ibu Belum Selesai karya I Wayan Suartha berisi kumpulan puisi yang penuh dengan perasaan dan refleksi kehidupan. Di dalamnya ada 78 puisi dengan tema yang beragam, mulai dari hubungan ibu dan anak, kenangan masa lalu, rasa rindu, sampai kecintaan terhadap daerah asalnya, yaitu Klungkung. Menurut saya, puisi-puisi dalam buku ini cukup menyentuh karena menggambarkan hal-hal yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Melalui puisi-puisi tersebut, penulis mencoba menyampaikan pengalaman batin yang cukup dalam, terutama tentang hubungan keluarga yang tidak selalu bisa diselesaikan dengan kata-kata. Klungkung juga sering muncul dalam beberapa sajak, seolah menjadi ruang penulis menyimpan ingatan dan emosinya. Hal ini menunjukkan bahwa tempat asal memiliki peran penting dalam membentuk perasaan dan sudut pandang penulis.

   Selain itu, sosok ibu menjadi tema yang paling dominan dalam buku ini. Hampir di setiap puisi, terdapat gambaran kerinduan, kasih sayang, bahkan penyesalan yang terasa sangat personal. Gaya bahasa yang digunakan cenderung puitis dan simbolis, sehingga pembaca perlu memahami makna di balik setiap umpannya.

   Secara umum, buku ini tidak hanya menawarkan keindahan kata-kata, tetapi juga kedalaman makna yang dapat dirasakan oleh pembaca. Kekuatan utamanya terletak pada cara penulis menyampaikan emosi secara jujur dan apa adanya, meskipun di beberapa bagian terasa cukup kompleks untuk dipahami secara langsung. Melalui puisi-puisi tersebut, penulis mencoba menyampaikan pengalaman batin yang cukup dalam, terutama tentang hubungan keluarga yang tidak selalu bisa diselesaikan dengan kata-kata. Klungkung juga sering muncul dalam beberapa sajak, seolah menjadi ruang penulis menyimpan ingatan dan emosinya. Hal ini menunjukkan bahwa tempat asal memiliki peran penting dalam membentuk perasaan dan sudut pandang penulis.

   Selain itu, sosok ibu menjadi tema yang paling dominan dalam buku ini. Hampir di setiap puisi, terdapat gambaran kerinduan, kasih sayang, bahkan penyesalan yang terasa sangat personal. Gaya bahasa yang digunakan cenderung puitis dan simbolis, sehingga pembaca perlu memahami makna di balik setiap umpannya. Secara umum, buku ini tidak hanya menawarkan keindahan kata-kata, tetapi juga kedalaman makna yang dapat dirasakan oleh pembaca. Kekuatan utamanya terletak pada cara penulis menyampaikan emosi secara jujur ​​dan apa adanya. Namun, gaya bahasa yang cukup simbolis juga menuntut pembaca untuk lebih teliti dalam memahami makna yang terkandung di dalamnya.

    Puisi “Jembatan Silang (Bagi Ibu)” menggambarkan hubungan emosional antara seorang anak dengan ibunya yang memenuhi keinginan, kenangan, dan perasaan kehilangan. Salah satu bagian puisi paling menyentuh yaitu” beri aku tidur dengan dongeng tembang pengiring lantas tenang malam begini berbagi lewat pintu sebelum aku tunda.” Kutipan ini menenunjukan, kehadirkan sosok ibu sebagai tempat pulang, sosok yang pernah memberi kehangatan, perlindungan, serta cerita-cerita pengantar tidur. Namun, dibalik itu, jarak tersirat baik secara fisik maupun batin yang membuat kehadiran ibu terasa semakin jauh dan sulit dijangkau.

Puisi ini juga memunculkan suasana batin yang menenangkan dan penuh tanda tanya, seolah ada rahasia atau perasaan yang belum tersampaikan. Pada bagian akhir, tampak keinginan sederhana dari sang aku lirik untuk kembali merasakan ketenangan seperti dulu, saat ibu masih hadir di pertunjukan. Secara keseluruhan, puisi ini menonjolkan tema kerinduan yang mendalam, kehilangan, serta kebutuhan akan kasih sayang seorang ibu yang tidak tergantikan.

   Puisi “Buku Harian Ibu Belum Selesai” digambarkan sebagai sumber cerita, kasih sayang, dan pembelajaran hidup. Meski ada jarak dan ketidaksempurnaan, “buku harian” ibu diibaratkan sebagai perjalanan hidup yang terus berlanjut dan tidak pernah benar-benar selesai, karena selalu meninggalkan makna bagi anak-anaknya.

   Puisi “Di Desa Tihingan” menggambarkan kenangan mendalam tentang sosok ibu dalam kehidupan sederhana di desa. Melalui potret aktivitas sehari-hari seperti menjaga pasar dan kehidupan kampung, ibu ditampilkan sebagai sosok yang penuh kasih, kuat, dan tulus dalam menjalani hidup. Aku lirik merasakan kekaguman sekaligus haru terhadap     perjuangan ibu, yang meskipun sederhana tetap memiliki makna besar.

   Selain itu, puisi ini juga menunjukkan bagaimana desa Tihingan menjadi ruang memori yang menyimpan perjalanan hidup, emosi, dan refleksi diri. Sosok ibu tidak hanya hadir sebagai orang tua, namun juga sebagai simbol kebenaran dan kehidupan yang terus membekas. Secara keseluruhan, puisi ini menekankan tema tentang penghormatan, kerinduan, dan pemaknaan terhadap peran ibu dalam kehidupan.

   Dalam puisi ini, “pulang” tidak hanya berarti kembali ke rumah secara fisik, tetapi lebih dalam sebagai usaha kembali ke diri sendiri ke ketenangan, kejujuran, dan kenangan masa lalu seperti sosok ibu dan kehidupan yang sederhana. Perjalanan yang dilalui tokoh terasa berat dan melelahkan, namun dibalik itu ada keinginan untuk menemukan kembali makna hidup yang sebenarnya.

   Puisi ini menyampaikan bahwa pulang adalah proses batin: kembali memahami diri, menerima perjalanan hidup, dan mencari kedamaian setelah berbagai pengalaman yang dilalui.

   Puisi “Lelaki di Batu Sungai”pada dasarnya menceritakan tentang seseorang yang mengalami kesepian sekaligus proses pencarian jati diri. Tokoh laki-laki dalam puisi diterjemahkan sedang menyendiri di alam, yang sekaligus menjadi simbol kondisi batinnya. Suasana seperti gerimis, hutan, dan sungai memperkuat kesan sepi dan melankolis. Selain itu, puisi ini juga menunjukkan adanya konflik batin, di mana tokoh tidak sepenuhnya memahami apa yang ia alami. Banyak hal yang terasa abstrak, seperti “suara kelap” atau “pertikaian rahasia”, yang bisa diartikan sebagai pergolakan pikiran dan perasaan. Di bagian akhir, tokoh seolah memilih untuk menerima keadaan dengan membiarkan semuanya mengalir begitu saja. Hal ini bisa dimaknai sebagai bentuk pasrah atau usaha untuk berdamai dengan diri sendiri. Jadi, puisi ini menekankan tema kesendirian, refleksi diri, dan pencarian makna hidup.

   Dari keseluruhan isi puisi dalam buku ini, terlihat bahwa I Wayan Suartha memandang hubungan antara ibu, kenangan, dan tanah kelahiran sebagai hal yang sangat dekat dengan kehidupan manusia. Penulis mencoba menunjukkan bahwa rasa rindu kepada ibu tidak pernah benar-benar hilang, meskipun waktu terus berjalan. Perasaan tersebut tetap hidup melalui ingatan dan pengalaman yang tersimpan dalam diri seseorang.

   Selain itu, Klungkung digambarkan bukan hanya sebagai tempat asal, tetapi juga sebagai bagian dari identitas dan perjalanan hidup penulis. Melalui sudut pandang tersebut, puisi-puisi dalam buku ini terasa lebih emosional dan personal, sehingga pembaca dapat ikut merasakan makna yang ingin disampaikan.

    Salah satu kelebihan utama buku ini terletak pada kekuatan emosinya. Penulis mampu menyampaikan perasaan rindu, kasih sayang, dan kehilangan dengan cara yang cukup jujur dan menyentuh, sehingga pembaca bisa ikut merasakan suasana batin yang ditampilkan. Selain itu, penggunaan bahasa yang puitis membuat setiap puisi terasa indah dan memiliki nilai estetika tersendiri.

   Kelebihan lainnya adalah konsistensi tema yang diangkat, terutama tentang sosok ibu dan kecintaan terhadap Klungkung. Jumlah puisi yang cukup banyak, yaitu 78 puisi, juga menjadi nilai tambah karena pembaca mendapatkan variasi sudut pandang dan pengalaman dalam satu buku.

    Di sisi lain, kekurangan buku ini dibagian gaya bahasa yang terlalu puitis dan simbolis terkadang membuat beberapa puisi sulit dipahami, terutama bagi pembaca yang belum terbiasa membaca karya sastra puisi. Hal ini bisa membuat makna yang ingin disampaikan penulis tidak langsung terserap dengan baik.

     Buku Buku Harian Ibu Belum Selesai cocok dibaca oleh pembaca yang menyukai karya sastra, khususnya puisi dengan tema keluarga dan refleksi kehidupan. Buku ini cocok dibaca bagi mereka yang ingin memahami lebih dalam tentang makna hubungan antara ibu dan anak. Selain itu, buku ini bisa menjadi pilihan bagi mahasiswa atau pelajar yang sedang belajar mengapresiasi karya sastra, karena menawarkan banyak makna yang bisa ditafsirkan dari berbagai sudut pandang.

Namun, bagi pembaca yang belum terbiasa dengan puisi yang bersifat simbolis, disarankan untuk membacanya secara perlahan agar lebih mudah memahami isi dan pesan yang ingin disampaikan penulis. Secara keseluruhan, buku ini layak dibaca karena tidak hanya menghadirkan keindahan bahasa, tetapi juga pengalaman emosional yang cukup mendalam.

 


TAGS :

Ayu Kahuatu Tamar

Ayu Kahuatu Tamar, yang juga dikenal dengan nama pena Ayu, lahir di Tana Mbanas pada 1 Januari 2004. Penulis berasal dari Kabupaten Sumba Tengah, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Penulis Merupakan anak kedua dari empat bersaudara dan satu-satunya anak perempuan dalam keluarga. Penulis Menyelesaikan pendidikan dasar di SDN Utapambapang pada tahun 2017, kemudian, ia melanjutkan pendidikan menengah pertama di SMPN 5 Umbu Ratu Nggay dan lulus pada tahun 2020. Setelah itu, ia melanjutkan pendidikan menengah atas di SMAN 1 Haharu dan menyelesaikan pada tahun 2023. Saat ini penulis sedang menempuh pendidikan tinggi di Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia dan Daerah, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas PGRI Mahadewa Indonesia, dan berada pada semester 4. Email: ayutamar9@gmail.com 

Komentar