Neraka Itu Ada di Rumah

  • By W Tanjung Files
  • 07 Maret 2024
istimewa

Sahila, sudah dua hari ini dia mengurung diri di kamar. Ia menahan sakit di bagian mata sebelah kiri. Menutupi sakitnya, mencoba untuk tidak bersuara. Pintu ia kunci dari dalam. Ayah Ibunya pun hanya bisa bertanya dari luar kamar. Tidak enak badan jawabnya. Akhir pekan yang seharusnya ia pakai untuk berkumpul dengan keluarga, yang biasanya ia mengajak pergi ke rumah neneknya. Hanya ia habiskan dengan menyendiri di kamar. Biasanya setiap Sabtu Minggu ia mengajak ayahnya untuk ke rumah neneknya. Menikmati suasana desa yang masih asri, dan sejuknya udara yang penuh kesederhanaan. Di rumah neneknya itu ia selalu mengenang masa kecilnya, yang penuh keceriaan, tak ada masalah rumit yang merisaukan pikiran, dari rutinitas kegiatan di sekolahan. 

Sejak kecil ia dibesarkan di lingkungan yang penuh kasih sayang dan kehangatan. Yang ia sukai dari neneknya, sering bercerita tentang dongeng-dongeng yang penuh keajaiban. Mulai dari asal mula babat desanya, sampai cerita legenda nusantara yang sering kita dengar, seperti kisah tentang candi Prambanan, Sangkuriang, dan terbentuknya telaga Sarangan. Kebiasaan neneknya yang suka bercerita itu menurun kepada ayahnya. Sehingga sejak kecil, setiap kali Sahila mau tidur, ia tak bisa tidur ketika ayahnya belum memulai cerita.

Dongeng yang terbiasa ia dengarkan sejak kecil, ternyata sangat berpengaruh pada karakternya. Di sela sela cerita, terselip nilai kejujuran, ketulusan, keadilan, perjuangan dan berbagai nilai kemanusiaan, membuatnya jadi gadis remaja yang santun, ramah, dan disukai banyak kalangan. Mulai dari guru sampai teman-teman seangkatan. Lembut tutur katanya, cantik parasnya, halus jiwanya. Di kelas pun ia menjadi sosok yang menjadi rujukan pertanyaan oleh teman-temannya, karena ia rajin belajar dan mudah memahami apa yang diajarkan guru pada saat pelajaran. Kemampuannya berliterasi dari menyimak dongeng sangat berpengaruh pada kemampuannya memahami materi pelajaran. 

Sudah tengah malam. Ayahnya coba untuk memanggilnya dari luar kamar. Karena ayahnya mendengar seperti ada suara orang menangis. “Sahila, Sahila, sudah tidur belum?” Ayahnya bertanya. 

Ia hentikan tangis. Coba berdiri dari kasurnya dan melangkah menuju pintu, untuk membuka. “Kok belum tidur, kenapa?” Ayahnya bertanya. Sahila jalan membelakangi, dan langsung berbaring lagi di atas kasurnya. Sembari ia menutup wajahnya dengan bantal. 

“Kamu kenapa Sahila? Kok wajahnya ditutup.” Tanya ayahnya. 

“Tidak apa apa ayah, hanya pusing saja.” Ia berusaha menutupi sesuatu, tidak mau berkata jujur pada ayahnya. 

Ayahnya curiga ada sesuatu yang tidak beres. Melihat anaknya seperti sedang tidak baik-baik saja. Menawarkan untuk membawanya ke dokter. Tapi Sahila tidak mau. Malah Sahila meminta ayahnya untuk menceritakan dongeng seperti waktu ia kecil dulu. Sahila ingin tidur dengan tenang, dengan harapan dongeng ayahnya itu bisa melenakan rasa sakitnya. Ayahnya pun memulai cerita. Ibunya diam-diam sudah menyimak obrolan mereka dari awal. Berdiri mengamping di pintu, lega sudah melihat anaknya yang seharian mengurung diri di kamar.    

*****

Di lain tempat ada seorang gadis yang sedang ketakutan. Ia tutup telinganya rapat-rapat. Duduk bersandar di tembok. Dalam gudang yang gelap, tanpa lampu. Pengap dan penuh debu. Namun itu tempat satu satunya yang ia anggap nyaman. Namanya Tatia, ia teman satu sekolah dengan Sahila. Juga satu kelas. Padahal besok adalah hari Senin, waktunya kembali untuk masuk sekolah setelah libur akhir pekan. Namun sepertinya ia tak mungkin bisa tidur dengan tenang malam ini. Padahal ini sudah tengah malam. Di luar gudang tempatnya bersembunyi, terdengar suara pertengkaran antara papa dan mamanya.

“Dari mana kamu, jam segini baru pulang, tiap malam keluyuran, pasti kamu pergi sama wanita jalang itu kan?” Teriak mamanya pada papanya yang baru masuk rumah. 

“Hei, b*bi kau. Aku ini kerja, cari uang buat kebutuhan kita. Jangan seenaknya ngomong, matamu!” Bentak ayahnya balik. Keduanya tak mau mengalah, pertengkaran semakin riuh. Tatia semakin erat menutup telinganya. Ia sangat tertekan dengan suasana rumahnya yang setiap hari diwarnai pertengkaran papa mamanya. 

Pagi pun tiba, Tatia pergi ke sekolah. Meskipun sebenarnya ia sangat ngantuk, karena semalam tidak bisa tidur dengan nyenyak. Namun baginya sekolah adalah tempatnya keluar dari neraka. Seringnya kurang tidur, membuat kantung matanya seperti lebam menghitam. Sehingga terkesan dia seperti gadis yang menyeramkan. Dengan tampilan rambut yang terlihat urakan. Berpakaian seragam layaknya preman. Namun di sekolah, tak ada guru yang coba untuk menegurnya. Mungkin karena sudah tau kalau anak ini sulit dinasihati, atau karena tau bapaknya adalah seorang pejabat penting di kota ini. Kebanyakan guru, pura-pura tidak tahu kalau melihat ada yang tidak bener dengan caranya Tatia berpenampilan. 

Senin pagi, Tatia masuk kelas. Bel sekolah berbunyi, namun bangku Sahila masih kosong. Artinya Sahila tidak masuk hari ini. Di tempat lain, di rumahnya. Sahila masih mengurung diri di kamar. Ia bilang pada ayah ibunya untuk tidak masuk sekolah, ia mengaku masih pusing. Masih menutup kepalanya dengan bantal, dan berbaring di kasurnya. Ayah ibunya sebetulnya panik, namun karena Sahila mengaku baik-baik saja. Maka tidak ada tindakan dari keduanya. 

Yang Sahila rasakan adalah trauma kembali ke sekolah. Ia tak mau lagi mengalami perundungan yang dilakukan oleh Tatia beserta geng-nya. Ia tak pernah mengira, sekolah menjadi tempat yang sangat menakutkan, seperti neraka. Sekolah yang seharusnya jadi tempat belajar yang nyaman, justru jadi tempat yang subur untuk tindak kekerasan. Bapak Ibu guru pun bukan melulu yang harus disalahkan, karena sekolah bukan faktor satu satunya yang memiliki peran mendidik, tetapi rumah atau orang tua lah yang juga memiliki peran penting dalam pendidikan. Penguatan karakter dari rumah masing-masing, selanjutnya di sekolah tinggal memupuk, dan melanjutkan pembiasaan yang baik. Nama lain dari pendidikan adalah pembiasaan. 

Kondisi kejiwaan anak, tak lepas dari pengaruh orang tuanya di rumah. Kesiapan seseorang dalam membangun rumah tangga, juga sangat berpengaruh. Menjadi ortu bukan soal punya anak cantik, anak lucu, disekolahkan, lalu sudah selesai. Bukan hanya begitu. Anak perlu diajak bicara, diberi contoh, dan didoakan. Inilah yang hilang dari generasi Z saat ini. Kebanyakan anak sekarang, ortunya sibuk dengan gawai, eksis di dunia maya, membuat mereka melupakan kasih sayang pada anaknya. 

Sejak kecil anak dibiarkan belajar dari tontonan, tanpa pengawasan. Apalagi kartun sekarang banyak menampilkan adegan nakal dan kurang ajar. Anak dididik oleh sosial media. Sedangkan orang tua yang sudah mendidik anaknya secara baik-baik di rumah, di sekolah malah jadi bahan perundungan. Anak baik dianggap aneh, Karena tidak sama dengan kebanyakan temannya. Misalnya karena tidak mau pacaran, atau karena tidak mau ikutan bolos. Kalau tidak ikut bolos dianggap cupu. 

Sahila, dengan didikan ortunya yang penuh kasih sayang, menjadikan karakternya sosok yang santun dan kalem. Membuat siapapun suka padanya. Termasuk Rafi teman seangkatan yang menjabat ketua OSIS tahun ini, jatuh hati padanya. Semantara Tatia dengan kondisi rumahnya yang penuh pertengkaran, membuat ia jadi gadis urakan yang akrab dengan kekerasan. Problemnya, Tatia menyukai Rafi. Siswa ganteng yang telah membuatnya merasakan apa itu kasih sayang, meski hanya lewat pertemanan biasa. Perlakuan Rafi yang tidak membeda bedakan teman, membuat Tatia terpesona sejak pandangan pertama. 

Semenjak tau kalau Rafi menyukai Sahila, Tatia sangat geram pada Sahila, dan ia bersama gengnya merencanakan sebuah skenario jahat untuk mencelakai Sahila. Tatia menyuruh gengnya untuk membawa Sahila ke lorong belakang sekolah. Dan disuruh melakukan adegan syur layaknya film dewasa. Teman tatia ada yang siap merekam dengan ponselnya. 

Sahila tidak mau. Namun tangan kanan dan kirinya dipegang kuat oleh kedua teman Tatia, dan Tatia melepas satu persatu kancing bajunya Sahila. Meski tidak dilepas semuanya, hanya menyisakan pakaian dalam saja. Lalu ia rekam. Sahila yang hanya bisa menangis, melihat diperlakukan seperti itu. Tatia terus berjoget-joget ala film dewasa di depan Sahila yang setengah telanjang. Sahila semakin tidak kuat, dan berteriak minta tolong. Spontan Tatia membungkam mulut Sahila agar tak terdengar teriakannya. “Kamu terus teriak, aku cekik sampai mati!” Gertak Tatia. 

Sahila makin panik dan dia semakin kuat memberontak. Spontan Tatia kalap dan mengambil apa saja yang ada di tanah. Ia temukan sejumput tusuk cilok. Dan menusukkan ke arah mata Sahila. Melihat ada darah yang keluar dari mata Sahila. Teman-teman Tatia mulai panik. Lalu mereka semua kabur meninggalkan Sahila yang terluka satu matanya. Dengan tertatih tatih, Sahila coba menahan rasa sakitnya. Dan berusaha mengenakan pakaiannya. Sesampainya di rumah ia langsung masuk kamar dan mengurung diri. Ia tak berani memberitahu ortunya atas kejadian yang telah menimpanya. 

*****

Senin siang, ayahnya Sahila tak tahan lagi ingin melihat wajah anaknya. Ia buka bantal yang menutupi wajah Sahila. Ayahnya terkejut melihat luka lebam dan bercak darah yang terlihat di salah satu mata Sahila. “Astaga nak, kenapa dengan matamu?” 

Langsung ayah Sahila membawa anaknya ke dokter spesialis mata. Setelah pemeriksaan beberapa jam. Dokter menginformasikan bahwa anaknya telah mengalami kebutaan permanen. Setelah lukanya cukup ditangani, ayahnya meminta untuk Sahila ceritakan sejujurnya dengan apa yang telah terjadi. Dan Sahila pun menceritakan kronologinya sejak awal sampai akhirnya. Ayahnya yang tak terima anaknya diperlakukan demikian, langsung menghadap ke kepala sekolah dan melaporkan apa yang sedang terjadi. Sekaligus melihat rekaman kejadian itu dari CCTV yang ada di sekolah. 

Berita itu langsung tersebar luas. Para gengnya Tatia pun panik. Sementara Tatia dengan rasa tenang, tak terlihat panik sedikitpun. Teman-temannya ricuh dengan beredarnya info itu, Tatia hanya sibuk mencoret coret LKS bahasa inggris. Gambar babi, ia beri tulisan Mama. Gambar wajah wanita ia beri tulisan, simpanan Papa. Tak mau ambil pusing dengan berita itu, ia putuskan untuk pergi ke pantai. Mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi. Sampai pada tikungan ia terkejut dengan truk besar yang melintas. Berusaha menghindari tubrukan, ia banting setir ke kiri. Hingga mobilnya keluar lintasan jalan raya dan terperosok ke jurang. 

Satu jam kemudian ada tim penyelamat yang menemukannya sedang sekarat. Papanya pun sudah tiba di lokasi. Dengan kondisi sangat panik, ia memanggil-manggil anaknya yang satu satunya itu. “Tatia, Tatia, bertahanlah nak, maafkan papa, kamu pasti bisa diselamatkan.”

Tatia hanya menggelengkan kepala, dan berusaha mengucapkan sepatah kalimat, “Maafkan Tatia ya Pa.” Sembari berusaha menyodorkan secarik kertas kepada papanya, yang bertuliskan. “Berikan mata Tatia untuk Sahila.” Kemudian Tatia menghembuskan nafas terakhirnya. (*)


TAGS :

W Tanjung Files

Guru Seni Budaya di SMAN 2 Madiun sejak 2019 sampai sekarang. Aktif menulis buku pengembangan diri, puisi, dan cerpen. Produktif berkarya musik, teater, dan seni rupa bersama teman-teman Madiun Creative Network.

Komentar