Jejak-Jejak yang Tertinggal

  • By Sigit Susanto
  • 01 Februari 2023
Pustaka Ekspresi

Penulis : Sigit Susanto

Penerbit: Pustaka Ekspresi

Tebal: 154 Halaman

 

Buku puisi ini bercerita tentang tempat-tempat di tanah air dan kota-kota di 44 negara yang pernah saya dan istri saya kunjungi. Tak terkecuali tempat tinggal saya di Indonesia selama 31 tahun, baik di kampung halaman, tempat saya sekolah dan bekerja dan juga selama 26 tahun tinggal di Switzerland.

Sebelumnya saya menerbitkan buku catatan perjalanan berjudul Menyusuri Lorong-Lorong Dunia dalam 3 jilid (2005, 2008, 2012). Mengingat catatan perjalanan itu saya tulis dalam bentuk prosa, maka kali ini saya ingin mencoba menuliskan kota-kota dunia itu dalam bentuk puisi.

Mengingat tahun 2023 ini saya hendak kembali ke tanah air untuk selamanya, maka peta tempat yang saya potret lebih luas lagi, yakni tak hanya kota-kota dunia yang kami kunjungi, melainkan juga tempat-tempat di Indonesia yang pernah saya kunjungi.

Dengan begitu lahan fantasi saya lebih luas lagi. Tema yang saya tulis sekitar pengalaman optis, pengamatan di tempat, perasaan sesaat, emosional dan asosiasi-asosiasi abstrak berpulang ke negeri sendiri.

Saya memilih judul Jejak-Jejak yang Tertinggal, supaya bisa mengingat ulang sejauh mana saya melangkah dan siapa tahu pembaca bisa menikmatinya lewat kata-kata.

Bentuk puisi yang saya tulis, agak berbeda daripada umumnya. Saya mencoba menulis dari bentuk interior monolog bab Penelope pada novel Ulysses karya James Joyce. James Joyce menggunakan teknik Stream of Consciousness, yakni sebuah igauan mahapanjang, nyaris tanpa memakai koma dan hanya ada dua titik dalam 40 halaman.

Kebetulan saya telah menjadi anggota Reading Group pada James Joyce Foundation di Zürich. Sebuah kegiatan membaca novel bahasa Inggris Ulysses seminggu sekali selama 15 tahun (2006-2021) dan telah membaca ulang sampai lima kali.

Puisi model ini pernah saya kirim ke berbagai media dan sayangnya kebanyakan tak diterima. Hanya di koran Bali Post asuhan penyair besar legendaris Umbu Landu Paranggi, ada sekitar 21 puisi saya dimuat.

Untuk itu saya beranikan diri mengumpulkan 239 puisi, semoga bisa menjadi bacaan pembaca di tanah air. Syukur bisa memberi warna baru dari teknik yang sudah ada.

 

Zug, Switzerland: 12 Januari 2023.


TAGS :

Sigit Susanto

Sigit Susanto lahir di Kendal, 21 Juni 1963. Ia tamat AKABA 17–UNTAG Semarang tahun 1988.
Sejak April 1996 menetap di kota Zug, Switzerland. 

Komentar