Pelukis I Wayan Beratha Yasa Masih Kreatif di Usia Senja

  • By Ketut Sugiartha
  • 10 Mei 2024
Tut Sugi

Berkarya dan menikmati seni boleh jadi merupakan salah satu rahasia panjang umur yang belum terungkap. Setidaknya fenomena itu dapat ditemukan pada diri Yan Beryas yang memiliki nama lengkap I Wayan Beratha Yasa. Pelukis kelahiran 10 Februari 1944 ini tidak saja tetap kreatif tetapi juga masih mengendarai sepeda motor bila bepergian. Selain itu daya ingatnya pun tergolong masih kuat.

Walau sudah berusia delapan puluh tahun lebih, kreativitasnya di bidang seni lukis tidak pernah surut dan ia bahkan tetap antusias berpameran. Acara pameran tunggal teranyar untuk karya lukisnya akan digelar di Studio Wartam Jl. Nangka Selatan mulai 11 Mei 2024 s.d. 20 Juni 2024 dalam rangka menyambut dasawarsa Wartam, majalah pengemban dharma.

Lukisan-lukisan yang dipamerkan kali ini adalah karya-karyanya yang terbilang baru. Selain baru dalam arti sesungguhnya karena lukisan-lukisan itu memang diciptakan pada tahun-tahun belakangan setelah ia pensiun, juga baru dalam tema, merupakan transformasi karya sastra klasik berupa dongeng ke dalam karya visual dwimatra yang terbangun dari kombinasi titik, garis dan warna. Gaya yang agak berbeda ini mulai ia kembangkan sejak tahun 2012. Dan, karena yang menjadi sumber inspirasi adalah cerita rakyat tetapi goresannya bergaya abstrak atau modern, maka pengamat seni Lukis asal Belayu, Ketut Lanus Sumatera, melabelinya sebagai lukisan tradisi modern.

Adapun yang menjadi pemicu gagasan melahirkan karya yang sedikit berbeda ini tak lain dari buku-buku dongeng yang ditulis oleh pakar dongeng Bali I Made Taro. Pedanda Baka atau Cangak Maketu, Siap Selem, dan Lubdaka Si Pemburu adalah sebagian dari cerita rakyat Bali yang sudah ia narasikan kembali lewat lembaran kanvas dan diharapkan tetap bisa menjadi sarana pendidikan etika dan moral bagi masyarakat.

Bagi Yan Beryas, ada kisah yang tak terlupakan terkait dengan lukisan-lukisan itu. Sebelumnya sebagian dari lukisan-lukisan itu sudah pernah dipajang dalam pameran bersama anggota sanggar seni rupa Mangupura pada tahun 2019 di galeri Bentara Budaya Bali Gianyar. Di luar dugaan karya-karyanya itu mendapat perhatian serius dari Kepala Dinas Kebudayaan Bali I Wayan Kun Adnyana yang juga seorang pelukis. Lebih dari itu, berselang beberapa lama Yan Beryas mendapatkan kejutan yang menyenangkan. Ia ditetapkan sebagai salah seorang seniman Bali berhak menerima sertifikat hak cipta dari Direktur Jenderal Kekeyaan Inteketual Menteri Hukum dan Hak Azasi Manusia pada 7 Januari 2020.

 

Jejak Perjalanan

Sepanjang perjalanannya menekuni dunia seni rupa, Yan Beryas tidak pernah bergeser dari pilihannya sejak awal, mengangkat objek-objek yang ada di lingkungannya seperti sawah, pantai, pura, seni tari, seni pewayangan dan semacamnya ke atas bidang kanvasnya.

“Saya belajar melukis pada usia 10 tahun,” ungkapnya pada suatu kesempatan berbincang di rumahnya di Banjar Langon, Kapal. Karena memiliki kegemaran menggambar, di sela kesibukannya membantu orangtuanya di sawah, ia selalu menyempatkan diri datang ke Pura Desa Adat Kapal. Deretan patung dan ukiran-ukiran di sepanjang tembok pura itulah yang pertama kali menginspirasinya untuk mengores-goreskan pensil di atas kertas.

“Bakat melukis saya mulai berkembang sejak bersekolah di SLUA Saraswati Denpasar, berkat bimbingan guru menggambar saya, Bapak Prawoto. Sejak saat itu saya mulai melukis menggunakan cat air. Melihat bakat saya, Pak Prawoto yang pada waktu itu juga menjadi dosen di Fakultas Teknik Jurusan Seni Rupa Universitas Udayana menganjurkan saya kuliah di fakultas tempat ia mengajar,” bebernya.  

Setelah sempat kuliah selama 4 tahun di Fakultas Teknik Jurusan Seni Rupa Universitas Udayana, Yan Beryas drop out karena diangkat sebagai pegawai Humas di Pemda Badung dan harus menafkahi seorang istri. Meski demikian, di sela pekerjaannya sebagai PNS yang menangani kegiatan terkait dengan jurnalistik dan juga pernah menjadi wartawan lepas Bali Post, ia tetap meluangkan waktu untuk melukis.

Hingga kini lebih dari 500 buah lukisan telah dirampungkannya. Sebagian di antaranya dibeli oleh kolektor dan penggemar lukisan dari mancanegara. Sedangkan di dalam negeri, selain menjadi koleksi masyarakat umum juga dikoleksi oleh para pejabat daerah maupun pusat mulai dari kepala dinas, bupati, gubernur dan bahkan ada lukisannya yang dikoleksi oleh Megawati Soekarno Putri, Presiden RI ke-5.

Sebagai pensiunan pegawai negeri yang masih aktif melukis, Yan Beryas menyadari bahwa suka dan duka adalah warna kehidupan. Hidupnya pun tak luput dari terpaan dualitas itu. Meski ada sedikit penyesalan di hatinya karena tidak merampungkan kuliahnya sampai S1 di jurusan seni rupa, ia bersyukur dan merasa puas ketika mendapat penghargaan seni tertinggi “Piagam Dharma Kusuma” dari Gubernur Bali Dewa Made Bratha pada tahun 2007. Sebelumnya, pada tahun 1998, ia juga mendapat “Piagam Seni Kerti Budaya” dari Bupati Badung I Gusti Bagus Alit Putra.

Napak tilas jejak perjalanan hidupnya menjelajahi dunia seni lukis, ada belasan kegiatan pameran baik tunggal maupun bersama pernah ia ikuti, termasuk menggelar pameran di rumahnya di Banjar Langon, Kapal, bersama dosen ISI Solo I Nyoman Suyasa, putranya yang mewarisi bakatnya dalam dunia seni rupa.

Keterlibatannya dalam dunia seni tak dapat dipungkiri membuatnya merasa bahagia. Namun, ada satu impiannya yang sampai saat ini belum berhasil direalisasikan, yakni memiliki sebuah galeri untuk menampung ratusan karyanya yang menumpuk di gudang rumahnya. “Saya berharap, suatu saat kelak, akan ada yang peduli dan berkenan mengulurkan tangan untuk mewujudkan cita-cita terakhir saya,” pungkasnya.


TAGS :

Ketut Sugiartha

Menulis esai, puisi, cerpen dan novel. Tulisan-tulisannya telah tersebar di berbagai media cetak dan daring. Telah menerbitkan sejumlah buku fiksi meliputi antologi puisi, kumpulan cerpen dan novel. Buku terbarunya: kumpulan cerpen Tentang Sepuluh Wanita, antologi puisi Mantra Sekuntum Mawar dan novel Wiku Dharma.

Komentar